
Ilustrasi anak-anak generasi tua belajar membaca peta. (Freepik)
JawaPos.com - Dulu, jadi anak kecil itu identik dengan lumpur di kaki, lutut lecet, dan waktu main yang nggak pernah cukup. Tapi sekarang, tablet, ponsel, dan layar digital lainnya sudah jadi teman paling setia anak-anak.
Tanpa sadar, banyak kebiasaan sehat yang dulu jadi bagian alami masa kecil, sekarang pelan-pelan hilang karena digantikan oleh hiburan digital.
Bukan berarti layar itu sepenuhnya buruk, tapi kita juga perlu sadar bahwa ada hal-hal penting yang bisa menghilang kalau anak-anak terlalu tenggelam dalam dunia digital.
Berikut delapan kebiasaan masa kecil yang perlu kita ingat lagi dan – kalau bisa – kita bawa kembali ke hidup anak-anak kita sekarang, dikutip dari News Reports, Senin (7/4).
1. Menikmati Waktu Bosan
Dulu, bosan itu biasa. Nggak ada tontonan? Ya sudah, kita rebahan sambil ngelamun lihat langit atau main bayang-bayang. Dari kebosanan itu, banyak ide aneh-aneh muncul – dari bikin benteng dari bantal sampai cerita imajinasi yang bisa bikin senyum-senyum sendiri.
Sekarang, rasa bosan sedikit saja langsung diatasi dengan buka YouTube atau scroll TikTok. Padahal, waktu bosan adalah momen emas buat anak mengembangkan kreativitas. Biarkan mereka nggak ngapa-ngapain sejenak – itu bukan kegagalan, justru kesempatan.
2. Bermain dengan Alam
Masa kecil dulu rasanya nggak lengkap tanpa kotor-kotoran. Main di kebun, lari-larian di lapangan, panjat pohon, atau sekadar jalan kaki sore hari sambil ngitung berapa kupu-kupu yang kelihatan. Itu bukan cuma menyenangkan, tapi juga bikin tubuh dan jiwa sehat.
Sekarang, alam makin jarang disentuh. Banyak anak lebih familiar dengan game bertema hutan daripada hutan beneran. Padahal, interaksi langsung dengan alam membantu perkembangan fisik dan emosional. Coba ajak mereka kembali ke luar, walau hanya sekadar piknik kecil di taman kota.
3. Melatih Kesabaran
Sebelum era internet cepat, banyak hal butuh proses. Mau nonton film? Harus nunggu jadwal di TV. Mau foto? Harus cuci dulu filmnya. Proses-proses itu secara alami ngajarin kita bahwa nggak semua hal bisa instan.
Sekarang, semua bisa didapat dalam satu klik. Akibatnya, anak-anak makin susah menunggu atau menghadapi jeda. Melatih kesabaran itu penting karena hidup nyata penuh dengan penantian. Ajari anak untuk nikmati proses, bukan cuma hasil akhirnya.
4. Aktif Bergerak dan Main Fisik
Dulu, tubuh anak-anak selalu bergerak. Main petak umpet, lompat tali, atau balapan sepeda keliling kompleks. Aktivitas fisik bukan cuma bikin anak sehat, tapi juga bantu perkembangan otak dan keterampilan sosial mereka.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
