Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Oktober 2025 | 15.03 WIB

Mengenali 7 Pengalaman Masa Kecil yang Mengisyaratkan Pola Asuh Orang Tua Belum Matang Emosional

Ilustrasi seorang anak kecil berdiri sendirian di ruangan yang sunyi, menunjukkan beban emosional yang ditanggungnya. (Freepik) - Image

Ilustrasi seorang anak kecil berdiri sendirian di ruangan yang sunyi, menunjukkan beban emosional yang ditanggungnya. (Freepik)

JawaPos.com - Pola asuh yang kita terima saat kecil sangat memengaruhi cara kita bertindak dan merasa saat dewasa. Sayangnya, tidak semua orang tua memiliki kematangan emosional yang memadai untuk memenuhi kebutuhan anak. Hal ini sering meninggalkan jejak yang tak terhindarkan pada perkembangan anak.

Melansir dari Geediting.com Jumat (3/10), ada tujuh pengalaman masa kecil yang bisa menjadi penanda jelas pola asuh semacam itu. Mengenali tanda-tanda ini merupakan langkah pertama yang penting menuju penyembuhan emosional. Mari kita telaah tujuh pengalaman tersebut.

1. Sering Diminta untuk Bersikap Dewasa Sebelum Waktunya

Anda mungkin sering kali diminta "bertindak lebih dewasa dari usia" yang sebenarnya masih anak-anak. Kondisi ini membuat anak terpaksa mengambil tanggung jawab emosional yang seharusnya diemban orang tua. Anak-anak yang mengalami ini sering menunjukkan kecemasan dan perfeksionisme saat dewasa.

2. Merasa Cinta Harus Diperjuangkan atau Didapatkan

Cinta yang stabil dan tanpa syarat seharusnya menjadi hak setiap anak sejak lahir. Namun, Anda merasa harus bersikap "baik" atau penurut untuk mendapatkan kasih sayang. Jika cinta terasa seperti persetujuan yang harus diraih, itu adalah bentuk cinta bersyarat.

3. Dihukum karena Mengekspresikan Emosi

Mungkin Anda pernah dilarang menangis atau dibuat malu karena terlalu sensitif oleh orang tua Anda. Orang tua yang belum matang emosional sering melihat kebutuhan emosional anak sebagai beban. Mereka malah menggunakan rasa malu dan takut untuk menekan emosi tersebut.

4. Lingkungan Rumah Terasa Tidak Stabil dan Tidak Terduga

Satu di antara pengalaman khas adalah ketidakpastian suasana hati orang tua yang berubah-ubah dengan cepat. Ada saatnya orang tua sangat menyayangi, namun di lain waktu bersikap dingin dan tidak menepati janji. Lingkungan yang tidak aman membuat otak Anda selalu waspada terhadap ancaman.

5. Diperlakukan sebagai Perpanjangan Citra Orang Tua

Orang tua sering mengaitkan harga diri mereka dengan performa atau pencapaian Anda. Saat Anda berprestasi, mereka mengklaimnya sebagai keberhasilan mereka. Sebaliknya, ketika Anda membuat kesalahan, mereka menganggapnya sebagai kegagalan pribadi.

6. Menjadi Penengah atau Juru Damai Keluarga

Anda mungkin adalah orang yang harus menjaga kedamaian dan mengurangi ketegangan saat terjadi konflik. Anda juga mungkin sering meminta maaf hanya untuk menenangkan suasana, bahkan saat Anda tidak bersalah. Perilaku ini mengajarkan hiper-tanggung jawab, di mana Anda merasa harus bertanggung jawab atas suasana hati semua orang.

7. Diperintahkan untuk Bersyukur tanpa Diberi Validasi Emosi

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore