Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Agustus 2025 | 22.01 WIB

Dampak Psikologis Daddy Issue: Bagaimana Pola Asuh Ayah Membentuk Kepribadian, Hubungan, dan Kesehatan Mental

Ilustrasi anak dan ayah. (pexels.com) - Image

Ilustrasi anak dan ayah. (pexels.com)

JawaPos.com – Istilah daddy issue sering muncul dalam percakapan sehari-hari maupun media sosial. Banyak orang menggunakannya untuk menggambarkan seseorang yang bermasalah dalam hubungan asmara. Namun, secara psikologis, daddy issue memiliki makna lebih dalam, yakni luka emosional akibat pola asuh atau relasi yang tidak sehat dengan figur ayah.

Menurut laman Verywell Mind, daddy issue umumnya terjadi ketika anak tumbuh tanpa kehadiran ayah, menghadapi ayah yang terlalu otoriter, atau mengalami hubungan penuh konflik. Kondisi ini menciptakan pola emosional tertentu yang terbawa hingga dewasa, terutama dalam membangun relasi interpersonal.

Apa itu Daddy Issue?

Secara psikologis, daddy issue merujuk pada kesulitan seseorang dalam membangun hubungan sehat akibat pengalaman masa kecil dengan figur ayah yang penuh masalah. Talkspace menjelaskan, anak yang kurang kasih sayang atau validasi dari ayah dapat tumbuh dengan rasa tidak aman, sulit percaya pada orang lain, hingga ketergantungan emosional.

Fenomena ini tidak hanya dialami perempuan, meski sering digambarkan demikian. Laki-laki pun bisa mengembangkan daddy issue dalam bentuk agresivitas berlebihan, sulit mengekspresikan emosi, atau kesulitan menjalin hubungan yang stabil.

Siapa yang Rentan Mengalami?

Penelitian dalam Loupias Conference (2023) menemukan bahwa individu yang mengalami kehilangan ayah sejak kecil atau memiliki ayah yang hadir secara fisik namun absen secara emosional lebih rentan mengembangkan daddy issue. Situasi ini memperbesar risiko gangguan kecemasan, depresi, hingga masalah dalam mengenali batasan sehat (healthy boundaries).

Dampaknya dalam Kehidupan Sehari-hari

  1. Hubungan Asmara yang Tidak Stabil
    Menurut PsychCentral, seseorang dengan daddy issue cenderung mencari figur pengganti ayah dalam pasangan. Hal ini bisa menimbulkan pola ketergantungan, rasa cemburu berlebihan, atau takut ditinggalkan.

  • Kepercayaan Diri Rendah
    Anak yang tidak mendapat dukungan emosional dari ayah sering tumbuh dengan perasaan tidak cukup baik. Riset dari Halodoc menyebutkan, hal ini berdampak pada rasa minder dalam lingkungan sosial maupun akademik.

  • Kesehatan Mental Terganggu
    Studi dari Thriveworks menegaskan, daddy issue yang tidak ditangani berpotensi menimbulkan stres kronis, kecemasan, bahkan depresi.

  • Kesulitan Membangun Relasi Sosial
    Kurangnya model peran ayah yang sehat dapat membuat seseorang sulit mempercayai orang lain, membatasi kemampuan mereka dalam membangun persahabatan atau jaringan kerja yang sehat.

  • Bagaimana Cara Mengatasinya?

    Para psikolog menekankan bahwa daddy issue bukanlah kondisi permanen. Dengan pendekatan tepat, seseorang bisa pulih dan menjalani kehidupan lebih sehat. Berikut langkah yang disarankan:

    • Menyadari Pola yang Ada
      Langkah pertama adalah mengenali bahwa luka emosional dari masa lalu memengaruhi pola hubungan saat ini. Kesadaran ini penting untuk memutus siklus yang tidak sehat.

    Editor: Novia Tri Astuti
    Tags
    Jawa Pos
    JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
    Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
    Download Aplikasi JawaPos.com
    Download PlaystoreDownload Appstore