Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 Agustus 2025 | 14.35 WIB

7 Ungkapan yang Menunjukkan Pola Asuh Orang Tua Tidak Bertanggung Jawab Secara Emosional

Ilustrasi seorang anak yang duduk sendirian sambil menunduk, dengan figur orang tua berdiri di latar belakang yang tampak dingin./Freepik - Image

Ilustrasi seorang anak yang duduk sendirian sambil menunduk, dengan figur orang tua berdiri di latar belakang yang tampak dingin./Freepik

JawaPos.com - Masa kecil membentuk fondasi karakter dan kesehatan emosional seseorang di masa depan. Sayangnya, tidak semua anak mendapat dukungan emosional yang memadai dari orang tuanya. Pola asuh yang tidak bertanggung jawab secara emosional sering kali meninggalkan luka mendalam.

Melansir dari Geediting.com Minggu (10/8), ada tujuh frasa umum yang menjadi pertanda kuat pola asuh tersebut.

Frasa-frasa ini, yang mungkin terdengar sepele, sebenarnya mengirimkan pesan yang tidak sehat. Mengenali ungkapan ini adalah langkah penting untuk memahami dampak masa lalu.

1. "Kamu Terlalu Sensitif"

Ungkapan ini adalah cara orang tua menolak perasaan yang ditunjukkan anak. Anak-anak yang sering mendengar ini belajar untuk menekan emosi. Mereka menganggap perasaan sebagai sesuatu yang buruk atau tidak penting.

Mereka akan tumbuh dewasa dengan perasaan tidak nyaman saat mengungkapkan emosi. Ini membuat mereka kesulitan membangun hubungan yang tulus dan mendalam dengan orang lain.

2. "Karena Saya Bilang Begitu"

Frasa ini menutup semua ruang untuk diskusi dan pertanyaan dari anak. Pesan yang disampaikan adalah bahwa anak harus patuh tanpa alasan yang jelas. Anak-anak yang mendengar ini akan ragu untuk mempertanyakan aturan.

Mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang takut mengajukan pertanyaan di tempat kerja. Mereka juga cenderung menerima segala sesuatu tanpa berpikir kritis.

3. "Kenapa Kamu Tidak Bisa Lebih Mirip Kakakmu?"

Perbandingan dengan saudara atau orang lain adalah cara orang tua menyingkirkan identitas unik anak. Ungkapan ini menyampaikan pesan bahwa mereka tidak cukup baik apa adanya. Anak-anak yang dibandingkan akan merasa tidak berharga.

Mereka akan terus-menerus mengukur prestasi mereka terhadap orang lain. Mereka selalu merasa tidak puas dengan pencapaian yang sudah diraih.

4. "Hentikan Tangisanmu, Tidak Ada yang Salah"

Pesan ini membatalkan validitas emosi yang dirasakan oleh anak. Anak-anak yang sering mendengar ini belajar untuk mengabaikan perasaannya. Mereka menganggap tangisan itu sebagai hal memalukan.

Mereka dewasa akan mengalami kesulitan mengakui saat merasa sedih atau takut. Perasaan sedih dan takut akan selalu mereka pendam dan sembunyikan dari orang lain.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore