
Ilustrasi pasangan bercerai (Freepik/stefamerpik)
JawaPos.com - Perceraian kerap meninggalkan luka, bukan hanya bagi pasangan yang berpisah, tapi juga anak yang harus tumbuh dalam keluarga yang tak lagi utuh. Di sinilah pentingnya co-parenting, pola pengasuhan bersama yang menekankan kolaborasi demi kepentingan dan kestabilan emosi anak.
Berakhirnya hubungan suami istri bukan berarti memutus peran sebagai ayah dan ibu. Keduanya tetap memiliki tanggung jawab untuk membesarkan anak bersama. Terlebih, perceraian ortu dapat memberi dampak psikis kepada anak seperti rasa cemas, kesedihan mendalam, takut ditinggalkan hingga gangguan tidur.
"Jangka panjangnya, anak bisa mengalami kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal dan kurang percaya diri. Namun, semua itu dapat diminimalkan dengan co-parenting,” ujar Ratna Sari MPsi Psikolog CH.CHt.,CPHt.
Menurutnya, co-parenting menjadi jalan keluar terbaik untuk anak pasca perceraian. Dengan pengasuhan bersama, anak tetap bisa merasakan kehadiran kedua orang tuanya sehingga kesehatan mentalnya pun akan terjaga.
Agar co-parenting berjalan sehat, orang tua perlu menjunjung prinsip utama: utamakan kepentingan anak. kepentingan anak. Artinya, semua keputusan harus berangkat dari kebutuhan anak, bukan dari ego masing-masing pihak. Seringkali, konflik justru muncul saat orang tua masih membawa emosi pribadi ke dalam pola pengasuhan.
"Jangan melibatkan anak dalam konflik apalagi sampai menjelekkan mantan pasangan. Jangan pula menjadikan anak mata-mata, misalnya, papa sekarang dekat sama siapa, atau meminta anak memihak, misal, dek kamu lebih sayang mama apa papa, itu hanya bikin anak kebingungan," tegas psikolog klinis sekaligus founder Ertamentari Psikolog itu.
Maka dari itu, masing-masing pihak perlu berdamai dengan diri sendiri terlebih dulu. Apalagi jika perceraian terjadi karena konflik berat. Bila perlu, konsultasi ke profesional agar luka lama tidak terbawa dalam pengasuhan.
Gunakan bahasa yang netral, hindari membahas masa lalu, dan menjaga komunikasi tetap fokus pada kebutuhan anak adalah kunci. “Kalau belum siap tatap muka, bisa mulai lewat WhatsApp. Tapi pastikan tetap tenang dan komunikatif,” sambung Ratna.
Sebaiknya, dalam co-parenting ada kesepakatan tertulis yang mencakup jadwal kunjungan, tanggung jawab finansial, pendidikan, hingga penanganan situasi darurat. “Itu membantu mencegah konflik dan memberi anak kepastian. Dengan adanya rutinitas yang terjadwal anak akan lebih mudah beradaptasi,” katanya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
