Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 4 Juni 2025 | 15.21 WIB

8 Efek Jangka Panjang Dibesarkan oleh Orangtua yang Otoriter, Apa Bedanya dengan Pola Asuh Otoritatif? 

Ilustrasi orang yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter (freepik/jcomp) - Image

Ilustrasi orang yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter (freepik/jcomp)


JawaPos.com - Ada perbedaan besar antara pola asuh otoritatif dan otoriter. Orang tua yang otoritatif membimbing, sedangkan orang tua yang otoriter memerintah.

Dan jika Anda dibesarkan oleh orang tua yang otoriter, Anda pasti tahu bahwa ada perbedaan besar antara pengaruhnya dalam kehidupan Anda.

Tumbuh besar dengan orang tua yang otoriter dapat memiliki dampak jangka panjang yang akan terus Anda alami hingga dewasa. Namun, jangan khawatir, Anda tidak sendirian.

Dalam artikel ini, JawaPos.com telah melansir dari laman geediting.com, Rabu (4/6), delapan dampak jangka panjang dari dibesarkan oleh orang tua yang otoriter.

1. Kesulitan dalam pengambilan keputusan

Salah satu dampak paling signifikan dari dibesarkan oleh orangtua otoriter adalah perjuangan dalam pengambilan keputusan.

Orang tua yang otoriter dikenal dengan aturan-aturannya yang ketat dan tuntutan yang tinggi. Merekalah yang membuat keputusan, dan anak-anak hanya mengikutinya.

Hal ini tidak memberikan banyak ruang bagi anak-anak untuk membuat pilihan mereka sendiri atau belajar dari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.

Ketika anak-anak ini tumbuh dewasa, mereka akan menemukan diri mereka dalam lautan pilihan, tidak tahu jalan mana yang harus diambil.

Mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri, dan kini tekanan untuk membuat keputusan yang tepat bisa terasa sangat berat.

Ini bukan berarti mereka tidak dapat mempelajari keterampilan membuat keputusan di kemudian hari. Namun, perjuangan awal merupakan bukti efek jangka panjang dari pola asuh otoriter.

Ingat, ini bukan tentang menyalahkan orang tua atau menyesali pengalaman masa kecil. Ini tentang memahami sejarah perkembangan kita untuk menavigasi masa kini dan masa depan kita dengan lebih baik.

2. Takut akan konfrontasi

Konfrontasi sering kali mereka tanggapi dengan kemarahan dan hukuman, alih-alih pemahaman. Hal ini menanamkan keyakinan yang mengakar bahwa mengekspresikan pikiran atau membela diri akan berujung pada konflik.

Saat dewasa, mereka mungkin akan merasa kesulitan untuk mengungkapkan pandangan mereka, terutama jika pandangan tersebut berbeda dengan mayoritas.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore