Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Oktober 2026 | 01.55 WIB

Mengapa Mobil Listrik Lebih Ramah Lingkungan? Ini Alasannya

Ilustrasi warga mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengsian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Cikokol, Kota Tangerang. (Dok/Jawa Pos) - Image

Ilustrasi warga mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengsian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Cikokol, Kota Tangerang. (Dok/Jawa Pos)

JawaPos.com - Perkembangan industri otomotif saat ini tengah mengalami transisi besar menuju kendaraan listrik (electric vehicle).

Peralihan ini tidak hanya sekadar mengikuti tren, tetapi didasari oleh kebutuhan mendesak akan transportasi yang bersih serta upaya memperkuat ketahanan energi suatu negara.

Secara menyeluruh, mobil listrik terbukti jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal. Meskipun proses manufaktur dan penambangan material baterai menghasilkan jejak karbon awal yang cukup tinggi, "utang emisi" tersebut umumnya terbayar dalam 1 hingga 3 tahun penggunaan awal.

Setelah itu, kendaraan listrik beroperasi secara bersih dan memangkas dampak lingkungan secara signifikan.

 

Ramah lingkungan:

  1. Bebas emisi knalpot: Tidak menghasilkan gas buang beracun seperti karbon monoksida (CO) maupun nitrogen oksida (NOx) saat beroperasi, sehingga meningkatkan kualitas udara urban.
  2. Keberlanjutan berbasis energi: Efisiensi lingkungan akan makin optimal ketika daya listriknya dipasok dari sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya (PLTS) atau air.
  3. Efisiensi energi tinggi: Pembangkit listrik skala besar dan motor listrik jauh lebih efisien mengonversi sumber daya menjadi energi gerak dibandingkan mesin pembakaran konvensional lainnya.

Penggunaan mobil listrik tidak hanya berdampak pada kebersihan udara, tetapi juga menjadi strategi kunci dalam mencapai kemandirian dan ketahanan energi nasional. Pakar energi menilai bahwa elektrifikasi kendaraan jauh lebih unggul dibandingkan opsi bahan bakar nabati (biofuel).

Ketahanan energi :

  1. Efisiensi lahan yang luar biasa: Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di area sebesar 6% dari luas perkebunan sawit saja mampu menghasilkan listrik dua kali lipat dari kapasitas PLN saat ini cukup untuk memasok seluruh kendaraan listrik.
  2. Mencegah deforestasi: Tidak seperti biofuel yang berisiko mendorong pembukaan hutan baru secara masif untuk pemenuhan bahan baku, mobil listrik hemat dalam penggunaan lahan.
  3. Mengurangi ketergantungan impor BBM: Menurunkan beban konsumsi bahan bakar fosil impor dengan mengoptimalkan energi domestik.

Popularitas mobil listrik yang melonjak pesat didorong oleh kombinasi antara faktor ekonomis, kenyamanan berkendara, serta dukungan kebijakan dari pemerintah.

 
Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore