Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 Maret 2022 | 16.06 WIB

Gandeng UTP, UP Ciptakan Alternatif Baterai untuk Mobil Listrik

Mobil Listrik Nissan LEAF  pada ajang (GIIAS) 2021 Kamis (11/11). Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com - Image

Mobil Listrik Nissan LEAF pada ajang (GIIAS) 2021 Kamis (11/11). Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com

JawaPos.com - Penggunaan kendaraan listrik di Indonesia mulai memperlihatkan kecenderungan peningkatan. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat hingga November 2021, jumlah kendaraan listrik di Indonesia mencapai 14.400 unit.

Perlu diketahui, komponen utama yang digunakan untuk kendaraan listrik saat ini berjenis baterai lithium-ion. Baterai jenis ini diklaim unggul dari sisi usia pakai dan proses pengisian daya yang lebih cepat.

Akan tetapi, baterai lithium-ion memakan biaya besar. Untuk mobil listrik misalnya, sekitar 40 hingga 50 persen biayanya dihabiskan untuk baterai lithium-ion, karena baterai ini membutuhkan bahan baku kobalt yang sulit didapat dan harganya mahal.

Untuk itu, Universitas Pertamina (UP) bersama dengan Universiti Teknologi Petronas (UTP), Malaysia bekerja sama menciptakan energi alternatif lain untuk digunakan pada mobil listrik. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan sodium dan aluminium sebagai bahan baku utama pembuatan baterai pengganti lithium.

“Selama satu tahun terakhir, tim melakukan pengembangan baterai dengan cara menggantikan elektrolit cair menjadi polimer elektrolit berbahan baku sodium dan aluminium," jelas Ketua Tim Peneliti, Program Studi Teknik Mesin Universitas Pertamina Sylvia Ayu Pradanawati, Jumat (4/3).

Apalagi, jumlah sodium dan aluminium di alam jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan nikel yang merupakan bahan baku lithium. Sehingga, ketersediaannya akan lebih berkelanjutan dan harganya pun ekonomis, baterai sodium-ion lebih murah 30 hingga 40 persen dibanding baterai lithium-ion.

"Selain untuk mendapatkan alternatif bahan baku baterai, elektrolit yang dibuat oleh tim juga terbukti lebih tahan pada suhu tinggi, dibandingkan dengan lithium. Harganya juga lebih ekonomis,” ungkapnya.

Proses pembuatan elektrolit baterai tersebut dikatakannya cukup sederhana. Garam sodium dan aluminium dilarutkan dengan sebuah zat pelarut (solvent) untuk kemudian dicampurkan dengan polimer yang berasal dari alam.

Untuk melengkapi polimer tersebut, tim peneliti juga menambahkan fly ash atau abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran limbah dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Fly ash ini berfungsi sebagai filler yang dapat meningkatkan konduktivitas polimer.

"Pemanfaatan limbah dan garam yang murah ini, diharapkan dapat mengurangi biaya pembuatan baterai serta memperluas aplikasi baterai,” ujar alumni program doktoral dari National Taiwan University of Science and Technology, tersebut.

Dalam aplikasinya nanti, selain berpotensi digunakan pada kendaraan listrik, baterai ion sodium dan aluminium ini juga dapat digunakan untuk perangkat elektronik portabel.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore