Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 15 Juli 2024 | 19.04 WIB

BBM Rendah Sulfur akan Diluncurkan Pemerintah Agustus Mendatang, Apa Sih Sulfur itu?

Ilustrasi: Pegawai SPBU Pertamina mengisi bahan bakar. (Dok. Pertamina)

 
JawaPos.com - Pemerintah berencana meluncurkan jenis BBM baru pada Agustus mendatang. Hal ini juga disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif yang baru-baru ini memberikan pernyataan mengenai rencana peluncuran bahan bakar minyak (BBM) baru yang diklaim lebih ramah lingkungan. BBM baru ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengurangi emisi dan meningkatkan kualitas udara di Indonesia.
 
"Udara kita saat ini mengandung banyak emisi. Untuk mengurangi emisi dan mendukung hidup sehat, salah satu alternatifnya adalah menggunakan BBM rendah sulfur," kata Arifin di Jakarta baru-baru ini.
 
Arifin menjelaskan bahwa saat ini pihaknya sedang mencari bahan pencampur yang efektif untuk mengurangi kandungan sulfur dalam BBM. "Kami sedang mencari bahan pencampur yang bisa mengurangi kandungan sulfur. Saat ini kandungan sulfur BBM kita masih sekitar 500 ppm. Standar Euro 5 mengharuskan kandungan sulfur di bawah 50 ppm. Untuk mencapai standar tersebut, tentu membutuhkan biaya dan infrastruktur yang memadai, seperti kilang minyak yang saat ini masih dalam proses pembangunan di Balikpapan," jelas Arifin.
 
Omong-omong soal sulfur BBM, apa sih sulfur itu?
 
Dilansir dari Shell Indonesia, sulfur merupakan unsur kimia nonlogam poliatomik yang diidentifikasi huruf S dengan nomor atom 16. Orang Indonesia menyebut sulfur sebagai belerang. Warna belerang adalah kuning terang dengan bau khas semacam telur busuk.
 
Aslinya, bentuk sulfur berupa padatan rapuh, tidak berbau, tidak berasa, dan berwarna kuning pucat. Sulfur sensitif dengan berbagai jenis logam, kecuali emas dan platinum.
 
Belerang diproduksi setiap tahun dalam jumlah besar di berbagai belahan dunia. Pengolahan sulfur, umumnya, ditujukan untuk menghasilkan asam sulfat bagi kebutuhan industri. Untuk industri, sulfur penting untuk produksi minyak bumi atau bahan bakar fosil.
 
Setiap bahan bakar terutama untuk yang bermesin diesel biasanya mengandung sulfur. Sebab, belerang membuat kadar asam pada bahan bakar kendaraan semakin besar.
 
Selain nilai oktan, kandungan sulfur menentukan seberapa baik kualitas bahan bakar untuk kendaraan diesel. Makin rendah sulfur di bahan bakar diesel, maka makin ramah lingkungan. Sehingga membuat mesin dan gas buang kendaraan diesel jadi makin bersih.
 
Saat sulfur terlalu tinggi di bahan bakar, efeknya adalah pembakaran ruang mesin jadi tidak optimal. Jika dibiarkan dalam waktu lama, hal ini dapat merusak komponen mesin sehingga performanya menjadi menurun.
 
Lalu, apa pengaruh sulfur yang terkandung pada bahan bakar terhadap oli? BBM tinggi sulfur sanggup membuat deposit terseret dari gerak naik-turun piston sewaktu mesin bekerja. 
 
Efeknya, BBM makin turun dan dapat bercampur dengan oli mesin. Hal inilah yang membuat oli mesin menjadi lebih mudah kotor. Kerak yang dihasilkan dari kotoran tersebut, pada akhirnya, merusak kinerja mesin kendaraan.
 
Kandungan sulfur yang berlebih dapat memicu kerusakan pada mesin. Masalah yang timbul seperti munculnya kerak pada mesin dan sistem bahan bakar seperti injektor. Dampaknya yakni penurunan performa mesin sebagai akibat munculnya kerak pada mesin.
 
Hal ini karena kerak yang muncul di saluran bahan bakar dapat mengganggu suplai bahan bakar yang dialirkan ke dalam silinder. Problem bisa merembet pada turunnya tenaga mesin, pembakaran BBM tidak sempurna hingga kerusakan serius lain. Sulfur juga dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap usia mesin dan keberadaan emisi artikulat.
Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore