Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 Mei 2026 | 20.14 WIB

Ancaman Siber Berbasis AI Meningkat, Perusahaan Dipaksa Perkuat Sistem Keamanan Terintegrasi

Ilustrasi Ethical hackers, biasa dilibatkan dalam membentengi keamanan siber suatu sistem. (Cyber Octet) - Image

Ilustrasi Ethical hackers, biasa dilibatkan dalam membentengi keamanan siber suatu sistem. (Cyber Octet)

JawaPos.com - Gelombang serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) kini menjadi ancaman nyata bagi perusahaan di Indonesia. Di tengah meningkatnya skala dan kecepatan serangan digital, banyak organisasi justru masih tertinggal dalam hal kesiapan sistem keamanan, membuka celah besar bagi kejahatan siber yang semakin canggih.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap keamanan siber global secara signifikan, termasuk di Indonesia. 

Jika sebelumnya serangan siber dilakukan secara konvensional, kini pelaku kejahatan memanfaatkan AI untuk meningkatkan kecepatan, skala, dan efektivitas serangan.

Namun di balik kemajuan teknologi tersebut, banyak organisasi masih menghadapi tantangan serius. Sistem keamanan yang terfragmentasi serta operasional yang kompleks menjadi hambatan utama dalam menghadapi ancaman siber modern.
 
Hal ini terungkap dalam studi terbaru yang dirilis Fortinet bersama Forrester Consulting. VP of Marketing and Communications APAC Fortinet, Rashish Pandey, menegaskan bahwa pemanfaatan AI tidak serta-merta menjadi solusi jika tidak didukung sistem yang terintegrasi.
 
“Tanpa visibilitas terpadu dan data yang terhubung lintas lingkungan, AI justru bisa menambah kompleksitas, bukan menguranginya. Integrasi menjadi kunci agar AI mampu bekerja optimal dan memberikan dampak nyata terhadap keamanan,” ujar Rashish dalam Media Briefing Fortinet di Jakarta.
 
Fortinet menilai kondisi ini sebagai sinyal bahwa organisasi mulai bergerak menuju pendekatan keamanan yang lebih proaktif, terintegrasi, dan berbasis otomatisasi. Di tengah percepatan transformasi digital, perusahaan dituntut tidak hanya memperkuat perlindungan, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional keamanan.
 
Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, mengungkapkan bahwa perkembangan ancaman siber saat ini jauh lebih cepat dibandingkan beberapa tahun lalu.
 
Menurutnya, AI kini menjadi “senjata baru” yang dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital.
 
“Pelaku ancaman memanfaatkan AI untuk meningkatkan efektivitas serangan. Sementara itu, banyak organisasi masih kesulitan mengelola sistem keamanan yang kompleks, terutama karena visibilitas ancaman yang terbatas dan banyaknya solusi yang berjalan terpisah,” jelas Edwin.
 
Dalam praktiknya, tantangan tersebut semakin terasa. Sebanyak 46 persen organisasi mengaku kewalahan menghadapi lonjakan notifikasi keamanan (alert), sehingga sulit membedakan ancaman nyata dengan aktivitas normal. Bahkan, 43 persen organisasi masih mengandalkan proses manual dalam mendeteksi dan merespons insiden siber.
 
Kondisi ini mendorong perusahaan untuk mulai menyederhanakan sistem keamanan sekaligus meningkatkan otomatisasi. Pendekatan berbasis platform terintegrasi kini menjadi pilihan utama dibandingkan sekadar menambah solusi baru yang terpisah.
 
Saat ini, baru sekitar 29 persen organisasi yang telah mengadopsi platform keamanan terpadu. Namun dalam 12 hingga 24 bulan ke depan, angka tersebut diperkirakan meningkat hingga 60 persen, seiring kebutuhan akan sistem yang lebih efisien dan mudah dikelola.
 
Di sisi lain, investasi pada teknologi AI juga terus meningkat. Sebanyak 95 persen organisasi di Asia Pasifik berencana memperkuat penggunaan AI untuk keamanan siber. Teknologi ini diyakini mampu meningkatkan akurasi deteksi ancaman, mempercepat respons insiden, serta mengurangi ketergantungan pada proses manual.
 
Meski demikian, implementasi AI dinilai belum akan optimal tanpa fondasi data yang kuat dan sistem yang terintegrasi. Tantangan seperti lingkungan TI yang terfragmentasi, minimnya otomatisasi, serta data yang belum terhubung secara menyeluruh masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi banyak organisasi.
 
Dengan ancaman yang semakin kompleks, perusahaan kini tak punya banyak pilihan selain beradaptasi. Integrasi sistem, pemanfaatan AI, dan otomatisasi menjadi kunci utama dalam menghadapi era baru keamanan siber.
Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore