
Ilustrasi: Satelit tua NASA dipastikan telah jatuh kembali ke Bumi tanpa membawa dampak bahaya.
JawaPos.com - Satelit kuno NASA yang diluncurkan pada 1980-an dan telah lama berubah menjadi sampah antariksa jatuh ke Bumi. Sempat menjadi ancaman karena sampah antariksa tersebut dikhawatirkan jatuh tidak pada tempatnya saay memasuki atmosfer Bumi, NASA memastikan kalau satelit tersebut akhirnya jatuh tanpa membahayakan siapapun.
Satelit observasi Bumi yang sangat besar yang disebut Earth Radiation Budget Satellite (ERBS), jatuh kembali ke Bumi pada Minggu (8/1) malam kemarin pukul 23:04 EST (0304 GMT pada hari Senin). Satelit seberat 5.400 pon (2.450 kilogram) masuk kembali ke Laut Bering, dengan beberapa komponen berpotensi bertahan dari suhu masuk kembali yang sangat panas.
"Departemen Pertahanan mengkonfirmasi bahwa satelit seberat 2.450 kilogram tersebut memasuki kembali atmosfer di atas Laut Bering," tulis NASA dalam pembaruan informasi di laman resminya pada Senin (9/1).
"NASA memperkirakan sebagian besar satelit akan terbakar saat melewati atmosfer, tetapi beberapa komponen akan bertahan saat masuk kembali," imbuh NASA.
Seperti juga sudah diberitakan sebelumnya, NASA meluncurkan satelit ERBS pada tahun 1984 di pesawat ulang- alik Challenger untuk mempelajari bagaimana energi matahari diserap dan dipancarkan oleh Bumi. Satelit tersebut juga mempelajari stratosfer Bumi dan komponen atmosfer lainnya seperti uap air, aerosol, dan nitrogen oksida.
ERBS adalah bagian dari program Eksperimen Anggaran Radiasi Bumi tiga satelit NASA dan hanya dirancang untuk bertahan dua tahun. Masa kerja satelit tersebut berakhir pada tahun 1986.
Tetapi satelit tersebut bertahan hingga tahun 2005, ketika NASA akhirnya menonaktifkan ERBS di orbit. Setelah itu, satelit ini berubah menjadi sampah luar angkasa besar dengan bobot 2,5 ton lebih.
"ERBS jauh melebihi masa layanan dua tahun yang diharapkan, beroperasi hingga pensiun pada tahun 2005," tulis NASA dalam pernyataannya. "Pengamatannya membantu para peneliti mengukur efek aktivitas manusia pada keseimbangan radiasi Bumi," imbuh NASA.
NASA mengumumkan kematian satelit ERBS pekan lalu ketika kejatuhan satelit tersebut sudah bisa dipastikan waktunya. NASA mengatakan risiko puing-puing yang menimbulkan bahaya cedera bagi orang-orang di darat adalah sekitar satu banding 9.400.
Terbakar saat masuk kembali mungkin merupakan kematian yang pas untuk misi ERBS untuk menutup hampir 40 tahun perjalanannya di orbit Bumi, tetapi ini juga merupakan pengingat akan bahaya berkelanjutan yang dapat ditimbulkan oleh sampah antariksa di orbit dan di Bumi.
Tahun lalu, Tiongkok meluncurkan dua roket Long March 5B untuk membantu membangun Stasiun Luar Angkasa Tiangong, masing-masing pada Juli dan November, yang berubah jadi hujan bongkahan besar puing di Bumi. Setiap peluncuran melepaskan inti roket seberat 23 ton (21 metrik ton) yang masuk kembali tanpa terkendali.
Pada akhir Desember, Badan Antariksa Filipina juga mengeluarkan peringatan kepada publik atas puing-puing roket yang jatuh dari peluncuran Tiongkok yang berbeda pada 29 Desember.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
