
Umar Idris. (Dok. Pribadi)
Oleh: Umar Idris
(Alumni Pondok Modern Gontor Tahun 1996, Co-Founder Indonesian Institute of Journalism)
SEBUAH kebetulan sejarah terjadi ketika Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, memasuki usia satu abad pada pekan ini. Yaitu adanya relasi antara Gontor, pujangga dan sastrawan Ronggorwarsito dan pentingnya pengejawantahan nilai-nilai pondok pesantrennya dalam keseharian dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan berbangsa.
Gontor lahir pada 20 September 1926 atau 12 Robiul Awwal 1345 H, dan seratus tahun kemudian pesantren yang didirikan Trimurti—KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fannanie, dan KH Imam Zarkasyi—telah menjadi salah satu institusi pendidikan Islam paling berpengaruh di Indonesia. Presiden Prabowo Subianto bahkan dijadwalkan hadir dalam tasyakuran 100 tahun pesantren Gontor. Tetapi Gontor sesungguhnya merupakan bagian dari perjalanan panjang tradisi pesantren, intelektualisme, dan pembentukan moral masyarakat di Jawa secara khusus dan Indonesia secara umum.
Untuk memahami Gontor, kita dapat menengok lebih jauh ke belakang, ke tradisi pesantren yang berada di Ponorogo ini. Pesantren merupakan kelanjutan dari tradisi dan trah pesantren yang melegenda sebelumnya, yaitu Tegalsari yang letaknya tak jauh hanya tiga kilometer dari Pondok Gontor. Pada masanya, pesantren Tegalsari, merupakan sebuah pusat pendidikan Islam yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah keislaman dan kebudayaan Jawa. Tegalsari dan Gontor dipahami sebagai kesinambungan tradisi intelektual dan kepesantrenan yang berkembang di Jawa. Selain itu secara silsilah keluarga kedua pesantren ini memiliki kesinambungan keluarga.
Dari lingkungan tradisi pesantren di Tegalsari inilah nama Raden Ngabehi Ronggowarsito, salah satu santri Pesantren Tegalsari, kerap disebut dalam mata rantai sejarah intelektual santri di masyarakat Jawa. Ronggowarsito adalah salah satu pujangga terbesar dalam sejarah Jawa. Nama kecilnya Bagus Burham, dan ia kemudian menjadi pujangga Keraton Kasunanan Surakarta pada abad ke-19. Ia hidup pada masa ketika kerajaan-kerajaan Jawa berada dalam tekanan perubahan sosial dan politik yang sangat besar akibat menguatnya kekuasaan kolonial. Dalam situasi tersebut, peran seorang pujangga tidak hanya menghasilkan karya sastra, tetapi juga membaca perubahan zaman, merekam kegelisahan masyarakat, dan memberikan nasihat moral kepada lingkungan kekuasaan.
Sejumlah karya Ronggowarsito menunjukkan luasnya perhatian tersebut. Di antaranya adalah Serat Kalatidha, Serat Jaka Lodhang, Serat Sabdajati, dan Serat Wirid Hidayat Jati. Karya-karyanya tidak hanya berbicara mengenai spiritualitas, tetapi juga tentang manusia, kehidupan sosial, kepemimpinan, moralitas, dan masa depan masyarakat. Karena itu, Ronggowarsito dilihat bukan semata sebagai pujangga keraton, tetapi juga sebagai intelektual yang berusaha menjaga kesadaran moral masyarakat di tengah perubahan zaman.
Serat Kalatidha barangkali merupakan karya yang paling populer dalam konteks tersebut. Istilah zaman edan yang sering dikutip dari karya itu menggambarkan situasi ketika tatanan nilai mengalami kekacauan dan manusia kehilangan pegangan. Kritik Ronggowarsito sebenarnya tidak hanya diarahkan kepada masyarakat biasa. Ada kegelisahan terhadap keadaan zaman ketika manusia lebih mudah mengikuti arus kepentingan daripada mempertahankan kebenaran dan moralitas. Pesan itu terasa tetap relevan karena setiap zaman memiliki bentuk zaman edan-nya sendiri.
Yang menarik, Ronggowarsito berada di lingkungan keraton, dekat dengan pusat kekuasaan. Namun, kedekatan tersebut tidak berarti ia kehilangan fungsi kritisnya sebagai intelektual. Justru karena berada dekat dengan kekuasaan, ia memiliki kesempatan untuk membaca dari dalam bagaimana perubahan zaman memengaruhi kehidupan masyarakat dan kerajaan. Dari sini kita mendapatkan sebuah pelajaran penting: seorang intelektual boleh berada dekat dengan kekuasaan, tetapi ia tidak boleh kehilangan jarak moral terhadap kekuasaan.
Dalam konteks sejarah itulah Gontor menarik untuk dibaca. Ia tumbuh di wilayah yang memiliki tradisi pesantren panjang, tetapi kemudian menawarkan bentuk baru pendidikan Islam. Gontor tidak berhenti pada model pendidikan tradisional, melainkan menggabungkan pendidikan agama dengan bahasa, kedisiplinan, kepemimpinan, organisasi, olahraga, seni, dan kecakapan kehidupan. Pendirian Kulliyyatu-l-Mu'allimin Al-Islamiyah atau KMI pada 1936 menjadi salah satu tonggak penting dalam pengembangan sistem pendidikan Gontor.
Namun, kekuatan Gontor sesungguhnya tidak semata terletak pada sistem pendidikan, jumlah santri, jaringan alumni, atau luasnya lembaga yang berkembang di bawahnya. Ada sesuatu yang lebih fundamental, yaitu nilai-nilai yang ditanamkan kepada santri melalui kehidupan sehari-hari di pondok. Nilai tersebut dirumuskan dalam Panca Jiwa Gontor: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Lima nilai inilah yang seharusnya menjadi ukuran paling penting ketika kita berbicara tentang warisan Gontor setelah seratus tahun.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022