Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 Agustus 2026 | 23.27 WIB

Ingin Meningkatkan Kesehatan Mental Anak Remaja? Lakukan 6 Langkah Ini Menurut Psikologi

seseorang yang meningkatkan kesehatan mental anak remaja./Magnific/Trzykropy - Image

seseorang yang meningkatkan kesehatan mental anak remaja./Magnific/Trzykropy

JawaPos.com - Masa remaja adalah periode yang penuh perubahan. Anak mulai mencari jati diri, ingin memiliki lebih banyak kebebasan, menghadapi tuntutan sekolah, membangun hubungan pertemanan yang semakin kompleks, serta mulai memikirkan masa depan. Di tengah berbagai perubahan tersebut, kesehatan mental remaja menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.

Sebagai orang tua, guru, atau orang dewasa yang dekat dengan remaja, kita mungkin pernah melihat perubahan perilaku seperti anak menjadi lebih pendiam, mudah marah, sering mengurung diri di kamar, kehilangan minat terhadap kegiatan yang sebelumnya disukai, atau terlihat semakin sulit diajak berbicara.

Tidak semua perubahan tersebut berarti seorang remaja sedang mengalami gangguan mental. Namun, perubahan yang menetap dan mengganggu kehidupan sehari-hari perlu diperhatikan dengan serius.

Kabar baiknya, menjaga kesehatan mental remaja tidak selalu harus dimulai dari tindakan yang rumit. Banyak hal sederhana yang dapat dilakukan secara konsisten di lingkungan keluarga. Pendekatan psikologi juga menekankan pentingnya hubungan yang aman, komunikasi terbuka, dukungan emosional, kebiasaan sehat, serta kemampuan membantu remaja menghadapi masalah.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (17/8), jika Anda ingin membantu meningkatkan kesehatan mental anak remaja, berikut 6 langkah yang dapat dilakukan.

1. Jadilah Tempat yang Aman untuk Bercerita

Salah satu kebutuhan penting seorang remaja adalah merasa bahwa dirinya dapat diterima, bahkan ketika sedang mengalami masalah.

Sayangnya, orang dewasa terkadang langsung memberikan nasihat ketika anak mulai bercerita. Misalnya, ketika remaja mengatakan bahwa ia mengalami masalah dengan teman, orang tua langsung menjawab, "Makanya jangan terlalu dekat dengan mereka."

Meskipun maksudnya baik, respons seperti itu dapat membuat anak merasa tidak didengarkan.

Dalam komunikasi yang sehat, cobalah mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan solusi. Tanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana perasaannya.

Editor: Hanny Suwindari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore