Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Agustus 2026 | 19.55 WIB

Menjaga Bahasa Daerah, Merawat Identitas Budaya dan Kesantunan di Era Digital

Oleh: Dr. Dewa Ayu Kadek Claria, S.S.,M.Hum. (Istimewa). - Image

Oleh: Dr. Dewa Ayu Kadek Claria, S.S.,M.Hum. (Istimewa).

Oleh: Dr. Dewa Ayu Kadek Claria, S.S.,M.Hum

DI TENGAH perkembangan teknologi dan komunikasi digital yang semakin cepat, cara masyarakat menggunakan bahasa juga ikut berubah. Percakapan yang dahulu berlangsung dengan mempertimbangkan usia, kedudukan, serta hubungan antara penutur dan lawan tutur kini semakin sering digantikan dengan bentuk komunikasi yang singkat, praktis, dan informal. 

Perubahan ini memang tidak dapat dihindari. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada satu hal yang perlu mendapat perhatian serius, yaitu semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah, terutama bentuk-bentuk bahasa yang mengandung nilai kesopanan dan penghormatan.

Bahasa daerah bukan hanya alat untuk menyampaikan pesan. Di dalamnya tersimpan identitas, sejarah, cara berpikir, dan nilai sosial suatu masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat pada bahasa Bali melalui sistem Sor Singgih Basa. 

Sistem ini mengajarkan penutur untuk memilih kata sesuai dengan siapa yang diajak berbicara, bagaimana hubungan sosial di antara keduanya, dan dalam situasi seperti apa komunikasi berlangsung. Hal yang hampir serupa juga ditemukan dalam bahasa Jepang melalui sistem Keigo. Keduanya sama-sama memiliki fungsi penting dalam menyampaikan rasa hormat, kesopanan, serta menjaga hubungan sosial.

Persoalannya, generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan komunikasi yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi Z tumbuh bersama media sosial, aplikasi percakapan, dan berbagai platform digital yang mendorong komunikasi cepat, ringkas, dan cenderung informal. Kondisi tersebut membuat bentuk bahasa yang dianggap panjang atau rumit semakin sering disederhanakan. 

Dalam artikel Honorific Communication Among Generation Z: A Comparative Study of Syntactic Features in Japanese Keigo and Balinese Sor Singgih oleh Claria, dkk (2026), ditemukan bahwa generasi Z masih memahami pentingnya komunikasi yang sopan, tetapi dalam praktiknya mereka cenderung memilih bentuk yang lebih sederhana dan melakukan adaptasi terhadap struktur bahasa kesopanan tradisional.

Fenomena tersebut patut menjadi perhatian. Penyederhanaan bahasa pada dasarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk karena bahasa memang selalu berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Namun, masalah muncul ketika penyederhanaan berujung pada hilangnya pengetahuan mengenai bentuk-bentuk bahasa yang mengandung nilai budaya. 

Jika generasi muda hanya mengenal bentuk bahasa sehari-hari yang sederhana tanpa memahami tingkatan kesopanannya, lambat laun kekayaan bahasa daerah dapat kehilangan salah satu fungsi sosialnya yang paling penting.

Dalam bahasa Bali, misalnya, bentuk seperti titiang digunakan sebagai bentuk yang lebih sopan dibandingkan tiang. Begitu pula penggunaan kata Ida untuk merujuk secara hormat kepada seseorang dalam konteks tertentu. Pemilihan kosakata semacam ini bukan hanya persoalan benar atau salah secara linguistik, tetapi juga menunjukkan sikap penutur terhadap lawan bicaranya. 

Penelitian menunjukkan bahwa Sor Singgih lebih banyak menampilkan penghormatan melalui pilihan kosakata dan tingkatan tutur, sementara bahasa Jepang melalui Keigo banyak memanfaatkan perubahan bentuk kata kerja dan struktur gramatikal. 

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore