Ni Made Defy Janurianti, S.TP., M.TP, Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Universitas Warmadewa
PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis yang memiliki tujuan besar: memastikan anak-anak Indonesia memperoleh asupan pangan yang bergizi sebagai bagian dari investasi terhadap kualitas sumber daya manusia. Program ini tidak hanya berbicara tentang makanan yang tersedia di atas piring, tetapi juga tentang masa depan generasi Indonesia.
Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang tidak boleh luput dari perhatian: apakah makanan yang bergizi tersebut juga telah dipastikan aman?
Pertanyaan ini menjadi penting karena makanan yang dikonsumsi dalam program berskala besar seperti MBG memiliki rantai produksi dan distribusi yang panjang. Makanan harus dipersiapkan dalam jumlah besar, dimasak, dikemas, didistribusikan, kemudian dikonsumsi oleh anak-anak dalam rentang waktu tertentu. Setiap tahapan tersebut memiliki potensi menjadi titik masuk bahaya keamanan pangan apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Keamanan pangan dan gizi pada dasarnya merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Makanan yang kaya protein, vitamin, mineral, dan energi tidak akan memberikan manfaat optimal apabila terkontaminasi mikroorganisme patogen atau bahan kimia berbahaya. Dengan kata lain, pangan bergizi harus sekaligus pangan yang aman.
Tantangan pada skala besar
Salah satu tantangan terbesar MBG adalah skala penyelenggaraannya. Menyiapkan makanan untuk puluhan atau bahkan ratusan anak tentu berbeda dengan memasak makanan untuk keluarga di rumah. Semakin besar jumlah makanan yang diproduksi, semakin kompleks pula pengendalian keamanan pangannya.
Bahaya dapat muncul sejak bahan baku diterima. Bahan pangan yang tidak segar, terkontaminasi, atau tidak ditangani dengan benar dapat menjadi sumber masalah. Pada tahap pengolahan, proses pemasakan yang tidak mencapai suhu yang memadai dapat menyebabkan mikroorganisme patogen bertahan. Setelah makanan matang, risiko belum berhenti. Makanan matang justru memasuki fase yang sangat kritis.
Kontaminasi silang dapat terjadi ketika makanan matang bersentuhan dengan bahan mentah, peralatan yang tidak bersih, permukaan kerja, atau tangan penjamah makanan. Demikian pula, makanan yang telah matang dapat mengalami pertumbuhan mikroorganisme apabila berada terlalu lama pada kondisi suhu yang mendukung pertumbuhan mikroba. Di sinilah prinsip time and temperature control menjadi sangat penting.
Makanan yang telah dimasak harus dipertahankan dalam kondisi yang mampu meminimalkan pertumbuhan mikroorganisme hingga makanan dikonsumsi. Waktu antara makanan selesai dimasak, dikemas, didistribusikan, dan dikonsumsi harus menjadi bagian dari sistem pengendalian, bukan sekadar persoalan teknis operasional.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Ketua Komisi II DPR Usulkan Gaji PNS lewat Koperasi Hanya untuk Pegawai Pusat
Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Be'er Sheva: De Kaasboeren Terlalu Digdaya di AFAS Stadion
Prediksi Skor Wofoo Tai Po vs Lion City Sailors di ACL Two: Tim Singapura Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Sparta Prague vs Lillestrom: Železná Sparta Siap Menang Telak di epet ARENA
Prediksi Skor Gangwon FC vs Phnom Penh Crown: Misi Tuan Rumah Raih Kemenangan Perdana di ACL Two
Prediksi Skor BG Pathum United vs Adelaide United: The Rabbits Waspadai Ketajaman Wakil Australia
Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Be'er Sheva: De Kaasboeren Diunggulkan
Prediksi Skor Tampines Rovers vs Machida Zelvia: Wakil Jepang Berpeluang Curi Tiga Poin di Singapura
Prediksi Skor Celje vs Omonia: The Shamrock Jaga Mimpi Lolos ke 32 Besar

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022