
Photo
TRAGEDI ritual Jati Tunggal Nusantara menyedot perhatian masyarakat luas. Media cetak dan elektronik memberitakan peristiwa nahas itu dari banyak pihak, yakni pemerintah, aparat, dan pengikut. Pihak berkuasa akan memastikan agar kelompok warga yang mempraktikkan ritual diawasi secara saksama. Sementara pihak kepolisian melihatnya sebagai perilaku yang menyebabkan orang lain menjadi korban dari keteledoran pimpinan.
Menariknya, seorang sopir yang diwawancarai stasiun televisi nasional menegaskan bahwa dirinya telah mengikuti ritual ajaran Nur Hasan itu selama setahun lebih. Dia pernah menjalani ritual untuk mencari keselamatan. Kata terakhir itu sangat akrab dalam literatur keagamaan, yang biasanya dikaitkan dengan keadaan selamat di dunia dan akhirat.
Dari beberapa tilikan, tujuan dari pengikut Garuda Nusantara (nama asli padepokan) secara khusus tidak sama. Seperti mencari rezeki, menemukan ketenangan, dan menunaikan hajat. Secara psikologis, dalam tradisi Maslow, sejatinya setiap manusia berhasrat untuk memenuhi kebutuhan, dari dasar (biologis) hingga puncak (aktualisasi). Dalam perjalanan manusia secara umum, setiap individu mengalami liku-liku dan tekanan.
Genealogi
Seperti aliran sejenis, Jati Tunggal Nusantara (selanjutnya disingkat JTN) menyerap ajaran Islam. Seperti membaca salawat dan Alquran serta mengakomodasi ajaran lokal. Misalnya mengagungkan Nyi Roro Kidul sebagai narasi dalam menanamkan keyakinan tentang sosok penyelamat. Apalagi, sebuah poster yang ditempel di dinding rumah ketua JTN ini menjadikan ajaran Jawa sebagai bagian dari rujukan dari keyakinan.
Sejatinya ritual adalah bagian penting dari agama. Secara antropologis, ia terkait dengan persembahan manusia kepada Ilahi untuk memenuhi keinginan. Ironisnya, ketua dan pengikut JTN tidak menimbang tujuan dari syariat, di mana ritual dalam agama berdasar aturan ini adalah menjaga agama (hifz al-din), jiwa (al-nafs), akal budi (al-‘aql), keturunan (al-nasl), dan harta (al-mal). Dengan menantang maut, sesungguhnya Nur Hasan tidak menghadirkan pesan syariat secara utuh. Apalagi, anaknya yang baru berumur 12 tahun turut menjadi korban.
Namun, kita tidak bisa membebankan kesalahan sepenuhnya kepada pentolan JTN. Kehendak untuk menemukan makna dalam hidup sejatinya menjadi persoalan abadi manusia. Secara subjektif, gerakan sempalan adalah respons terhadap agama resmi yang dianggap terlalu formal dan tidak mendatangkan rasa tenteram. Tidak dapat dielakkan, banyak aliran tarekat yang dijadikan jalan untuk meraih apa yang tidak didapat dari lingkungannya.
Perasaan kosong sering kali hadir di tengah kehidupan modern yang dipenuhi godaan hidup yang menyenangkan. Sebagian warga memang berburu dengan menumpuk harta benda dan memuaskan hasrat dengan pelbagai hiburan. Nestapa masyarakat modern telah sering diulas banyak psikolog dan filsuf. Lagi-lagi, seperti kutukan Sisyphus dalam Albert Camus, manusia selalu melakukan rutinitas yang dianggap mendatangkan ketenangan. Padahal, di puncak, ia mendapatkan kekosongan. Apa daya, ia seakan-akan harus melakukan kembali dari bawah untuk mengulang absurditas, kecelaruan.
Andai ritual itu tidak berbuah tragedi, mungkin JTN akan terus berjalan dan menggaet banyak pengikut. Di tengah tekanan kehidupan dan pandemi, masyarakat tentu ingin keluar dari ketidakpastian. Secara objektif, ritual yang dilakukan di tengah malam dan di alam terbuka merupakan perlawanan terhadap ibadah yang dilakukan di waktu dan ruang yang nyaman. Pelaku harus berjaga dan menahan dingin udara malam. Pendek kata, ia telah mengalahkan tubuh dan jiwa yang malas. Bukankah kemenangan tertinggi adalah jiwa yang menundukkan tubuh, pusat kehendak bendawi?
Menariknya, semadi atau semedi yang menjadi bagian dari ritual itu tidak ditempatkan di dalam prinsip asal dari agama Timur. Dalam Cure: A Journey into the Science of Mind over Body, Jo Marchant mengurai soal meditasi sebagai bagian dari cara melepaskan ketegangan. Seperti diketahui umum, semakin stres kita rasakan, semakin besar kita mengalami pemikiran negatif. Jika berkepanjangan, keadaan itu akan memperburuk kejiwaan dan hubungan yang bersangkutan dengan orang lain.
Oleh karena itu, meditasi untuk menyadari keadaan sekitar (mindfulness) mendorong seseorang untuk lebih menyadari pikiran-pikirannya. Dan memungkinkan untuk kembali dan menyadari bahwa keadaan negatif atau stres itu tidak dengan sendirinya mewakili kenyataan. Tetapi, alih-alih menjadikan semedi sebagai pembebasan, justru banyak orang yang menjadikan ritus ini untuk mewujudkan hasrat duniawi. Agama yang menekankan pada tauhid, keesaan Tuhan, semestinya dipahami bahwa perhatian tinggi dalam hidup adalah Allah, bukan yang lain. Apa lacur, berhala baru diciptakan, seperti kekayaan, kedudukan, dan kemasyhuran.
Dengan demikian, di tengah tekanan hidup yang kian meruncing, pesan agama yang otentik tentang kebahagiaan perlu diketengahkan secara utuh. Dalam surah An Nahl 97, hayatan thayyibah (hidup bahagia) adalah bonus perbuatan baik (amal saleh) dari lelaki dan perempuan dalam keadaan beriman, yakni tidak didasarkan pada pamrih. Hal itu juga ditegaskan Aristoteles, filsuf Yunani, bahwa eudaimonia adalah buah dari kebaikan yang kita lakukan secara moderat.
Itulah mengapa dalam bukunya Happiness of Pursuit: Finding the Quest That Will Bring Purpose to Your Life, Chris Guillebeau membalik pencarian kebahagiaan menjadi kebahagiaan pencarian. Selama ini orang ramai berburu kebahagiaan sebagai akhir dari ikhtiar, padahal dalam proses itulah semestinya orang menemukan kegembiraan. Sebab, keinginan yang telah dicapai akan menimbulkan kehendak baru untuk menggapai kemauan lain. Betapa kebahagiaan itu selalu berada di seberang.
Oleh karena itu, ritual buang sial di Pantai Payangan, Jember, bisa merupakan potret masyarakat kita secara keseluruhan. Betapa khalayak melakukan pelbagai cara untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ada banyak jalan untuk memenuhi hasrat, tetapi di sini banyak lubang yang bisa memerangkap. Agar bisa menghindari jebakan, fungsi-fungsi dari institusi batin dan lahir masyarakat mesti sehat. Jika tidak, kualat. (*)

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Laga Hidup-Mati, Siapa Bertahan dari Jurang Eliminasi?
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Skor Argentina vs Austria di Piala Dunia 2026: Menantikan Sihir Lionel Messi Hadapi Das Team
Prediksi Skor Prancis vs Irak di Piala Dunia 2026: Kylian Mbappe Siap Mengamuk Kalahkan Singa Mesopotamia
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
