alexametrics

Memperingati 7 Hari Mbah Moen: Kiai Bangsa yang Mencintai dan Dicintai

12 Agustus 2019, 18:03:35 WIB

SAYA sedang sarapan di Salatiga bersama anak dan cucu ketika tiba-tiba “petir” itu menyambar. Anak saya, Rabi’ah Bisriyah, yang duduk di depan saya, sambil melihat handphone-nya, istirjaa’ -innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun- dan terbata-bata berkata, “Bah, Mbah Moen kapundut.” Lalu, pecahlah tangisnya. Kami pun berhenti sarapan, sibuk mencari kebenaran berita mengejutkan itu.

Bagi saya sendiri yang sebelumnya sudah merasa khawatir akan ditinggal beliau, berita itu tetap bagaikan petir di siang bolong.

Ya, saya merasa khawatir karena belakangan sesepuh yang saya cintai dan hormati itu setiap bertemu hampir selalu berdoa dan minta didoakan agar husnul khaatimah. Apalagi ketika mendengar cerita saudara sepupuku yang diminta putra-putra Mbah Moen untuk “mencegah” beliau berangkat haji tahun ini. Belum sampai misinya disampaikan, beliau sudah menyergah dengan tegas, “Kowe dikon ngalang-ngalangi aku budal kaji yo (Kamu disuruh mencegah aku berangkat haji, ya)?!”

Mungkin “membaca isyarat” itu juga antara lain, mengapa putra-putra dan keluarga beliau mengikhlaskan beliau dimakamkan di Makkah, di Tanah Suci, sebagaimana beliau idamkan. Jika wafat dan dimakamkan di Tanah Suci memang merupakan keinginan beliau, siapakah di antara santri dan umat beliau yang tidak ikhlas? Sedangkan Allah sendiri ternyata memenuhinya. Di antara kita mungkin ada yang kecewa atau menyesali diri karena tidak bisa hurmat, secara fisik menghormati dan mengantar kepergian junjungan mereka. Tapi, akhirnya mereka itu pun pasti memaklumi dan ikhlas. Bukankah beliau -Allahu yarham- selama ini hampir tak pernah punya keinginan sendiri karena lebih mementingkan untuk memenuhi keinginan mereka, umat yang beliau cintai.

***

Sampai hari ini, setelah wafat dan dikebumikannya Mbah Moen (KH Maimoen Zubair) di Tanah Suci Makkah pada Selasa, 6 Agustus 2019, ndalem beliau di Sarang, Rembang, masih terus diserbu umat beliau, seperti ketika beliau masih ada. Saya sendiri datang ke Sarang hari ketiga, hari Kamis. Begitu masuk Sarang, jalan pantura sudah macet. Mobil-mobil, terutama truk-truk, memenuhi kanan-kiri jalan, hampir tidak bergerak. Padahal, acara tahlil bersamanya dimulai habis isya. Wah, sampai ndalem acara tahlilnya sudah usai, pikir saya. Tapi alhamdulillah, tiba-tiba ada santri naik motor, menyuruh saya turun saja dari mobil dan bonceng dia. Belakangan saya diberi tahu bahwa itu ide Kapolsek Sarang.

Kompleks Pesantren Al-Anwar dan ndalem kiai sudah penuh sesak dengan jamaah pencinta Mbah Moen dari berbagai daerah. Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan dari luar Jawa. Banyak kiai dan habaib yang juga memerlukan datang bertakziah, disambut putra-putra Mbah Moen yang tidak pergi haji -Gus Ubab, Gus Najih, Gus A. Ghofur, dan Gus Idror- mewakili tuan rumah.

Masuk ndalem dan memeluk satu per satu putra-putra Mbah Moen yang sebenarnya masih kapernah cucu-cucu saya, rasanya diri ini seperti melayang. Biasanya, bila saya sowan Mbah Moen, beliau menyambut dengan wajah beliau yang teduh dan tawa yang renyah. Jabatan tangannya dilanjutkan dengan terus memegangi dan membimbing tangan saya ke “singgasana” beliau, tempat duduk panjang yang biasa beliau duduki saat menemui tamu. Jangan salah sangka. Bukan saya saja yang beliau perlakukan demikian. Hampir semua kenalan yang sering sowan, terutama yang sepuh-sepuh, beliau minta duduk di samping beliau.

Menerima tamu memang salah satu “pekerjaan” kiai yang dituakan. Tapi, untuk Mbah Moen sepertinya tidak sekadar “pekerjaan” sambilan. Kelihatannya bagi beliau, menerima tamu, siapa pun, adalah tugas kewajiban. Melihat aktivitas mengajar beliau di pesantren, dakwah beliau di berbagai daerah, kegiatan beliau yang bersifat kenegaraan, dan frekuensi beliau menerima tamu, orang mungkin bertanya-tanya kapan dan berapa lama beliau tidur. Tamu-tamu beliau terdiri atas beberapa kalangan dan berbagai etnis, agama, aliran, partai, dan kebangsaan. Mulai tamu-tamu dari luar negeri, presiden, calon presiden, menteri-menteri, pimpinan dan anggota DPR-MPR-DPD, panglima, Kapolri, pejabat-pejabat lain dari berbagai jajaran, pimpinan ormas, pimpinan parpol, hingga rakyat jelata. Semua beliau terima dengan kegembiraan hati dan kecerahan wajah yang sama.

Meskipun umumnya kiai itu berilmu, menurut saya, istilah kiai itu bukanlah terjemahan dari ulama. Kiai ialah istilah budaya. Berasal dari budaya Jawa. Orang Jawa menyebut apa atau siapa yang mereka hormati dengan sebutan kiai.

Kiai Nogososro atau Kiai Sengkelat, misalnya, adalah keris yang dihormati. Nah, orang yang dengan tulus berkhidmah kepada masyarakat, bahkan seluruh hidupnya seperti diwakafkan untuk masyarakat, dipanggil kiai. Orang yang tidak tahu diajari, orang yang memerlukan sesuatu dibantu. Atau seperti ajaran salah satu Wali Sanga, Sunan Drajat, “Menehana teken marang wong kang wuta; menehana mangan wong kang luwe; menehana busana marang wong kang wuda; menehana ngiyup marang wong kang kodanan (Berikanlah tongkat kepada orang yang buta; berilah makan orang yang lapar; berikanlah pakaian kepada orang yang telanjang; berikanlah naungan kepada orang yang kehujanan).” Mengajar mereka yang masih bodoh; membantu menyejahterakan kehidupan mereka yang miskin; mendidik akhlak mereka yang tidak punya malu; mengayomi dan melindungi mereka yang sengsara.

Contoh kiai pesantren yang segera bisa kita lihat seperti itu ya Mbah Moen. Orang tahu semata kiprah kemasyarakatan Mbah Moen selama hidup beliau. Pertanyaannya, mengapa ada orang yang begitu peduli dan dengan tulus ikhlas -tanpa meminta imbalan- mendarmabaktikan hidupnya, tenaga dan pikirannya, untuk umat dan sesamanya? Jawabnya, menurut hemat saya, pertama, karena orang seperti Mbah Moen ini sangat mencintai umat dan sesamanya. Kedua, contoh dan panutan kiai seperti Mbah Moen ini adalah -siapa lagi kalau bukan- pemimpin agungnya, kanjeng Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita tahu Kanjeng Rasul sangat mencintai dan peduli terhadap umatnya, tidak bisa melihat umatnya menderita (Q 9: 128). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lemah lembut terhadap sesama, memaafkan bila ada yang bersalah kepadanya, memintakan ampun bila ada yang berdosa kepada Tuhannya, dan mengajak mereka bermusyawarah mengenai hal-hal yang menjadi kepentingan bersama. (Q 3: 159). Maka, anehkah bila semua orang yang mengenal Mbah Moen sangat mencintai beliau?

Di samping itu, kalau umumnya kiai pesantren mencintai tanah airnya, hubbul wathan, Mbah Moen termasuk yang paling menonjol. Bukan hanya karena beliau memang didikan pesantren di mana kiai-kiainya adalah pejuang, tapi lebih dari itu, beliau sendiri sejak muda -tanpa banyak yang mengetahui- adalah pejuang di antara pejuang-pejuang kemerdekaan. Maka, tidak seperti umumnya tokoh-tokoh lain, meskipun Mbah Moen sampai wafatnya menyandang jabatan tertinggi partai, Partai Persatuan Pembangunan (ketua majelis syariah), dan Jam’iyah Nahdlatul Ulama (mustasyar), beliau tidak pernah menempatkan partai dan jam’iyah yang ikut beliau pimpin sebagai yang paling utama, apalagi sebagai tujuan akhir.

Kalau tidak salah, saya sempat memperhatikan hiasan dinding yang dipasang di ndalem. Di atas sendiri terpasang kaligrafi “Allah” dan “Muhammad”; di bawahnya simbol Garuda Pancasila; di bawahnya tanda gambar NU; dan di bawahnya lagi gambar Kakbah PPP. Bahkan, beliau pernah berpidato di acara khataman Alquran. Beliau antara lain berkata, “Kulo niki mboten kados paklik kulo Mustofa, piyambakipun meniko taksih kapernah paman kulo. Menawi piyambake, nomer setunggal niku NU; menawi kulo mboten. Menawi kulo nomer setunggal nggih Garuda Pancasila (Saya ini tidak seperti paman saya Mustofa, dia itu masih terhitung paman saya. Kalau dia, nomor satu itu NU. Kalau saya tidak. Kalau saya, nomor satu ya Garuda Pancasila).”

Beliaulah yang memopulerkan akronim PBNU: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang Dasar 1945. Beliau selalu tampak hadir dalam acara-acara keindonesiaan. Beliau bahkan tidak sungkan melilitkan pita merah-putih di kepala seperti pencinta-pencinta Indonesia yang lain. Maka, anehkah bila semua orang Indonesia yang mencintai negerinya mencintai Mbah Maimoen dan menangisi kepergian beliau?

Mereka semua yang sedikit-banyak pernah mencecap “ilmu kehidupan” dari beliau merasa bangga karena menjadi santri beliau. Maka, tidak berlebihanlah apabila kita menjuluki Mbah Moen sebagai Kiai Bangsa. Semoga santri-santri beliau, terutama putra-putra beliau, dapat meneladani dan meneruskan khidmah dan perjuangan beliau. Nafa’anaallaahu bi’uluumihi wa akhlaaqihi wakifaahih… (*)

Editor : Ilham Safutra

Close Ads