alexametrics

Lonceng Kematian Olahraga Kita

Oleh: Abdul Muntholib *)
10 September 2019, 18:40:02 WIB

DUKA mendalam menyelimuti dunia olahraga negeri ini. Belum kering luka akibat rencana penghapusan 10 cabang olahraga di Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua, disusul kekalahan memalukan timnas sepak bola Indonesia dari Malaysia 2-3 dalam ajang Prakualifikasi Piala Dunia, kini musibah kembali tiba. Yakni, dihentikannya audisi umum beasiswa bulu tangkis oleh PB Djarum pada 2020.

Yang menyesakkan dada, pengelola Persatuan Bulu Tangkis (PB) Djarum itu ngambek karena dituding melakukan eksploitasi anak-anak. Pihak yang menuding adalah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Manuver KPAI itu pun menuai banyak protes. Tudingan balik diarahkan kepada lembaga tersebut. Sumpah serapah pun menyeruak liar di dunia maya yang menyerang KPAI. Bahkan, ada yang menyebut KPAI sebagai Komisi Pemberantasan Atlet Indonesia. Lembaga yang diketuai Susanto tersebut juga dikaitkan dengan dana sponsor dari pihak asing yang sengaja membunuh industri rokok dalam negeri.

Gelombang tudingan itu sebenarnya sudah ditepis KPAI dengan lincah. Mereka berdalih bahwa ada regulasi yang menyebutkan larangan melibatkan anak dalam kampanye rokok. Nah, persoalannya kemudian, mengapa KPAI baru berkoar saat ini? Di tengah dunia olahraga nasional yang sedang lesu. Di saat para pembina olahraga sedang mengalami kesulitan menjaring atlet potensial. Di kala cabang olahraga sedang bingung menggaet ’’bapak asuh’’.

Sementara itu, Bakti Olahraga Djarum Foundation yang sudah puluhan tahun menggelontorkan dana hingga ratusan miliar rupiah untuk membina atlet bulu tangkis sejak usia dini ternyata mendapat ’’perlakuan’’ menyakitkan. Djarum telah dianggap sebagai biang yang merusak generasi bangsa melalui kampanye rokok pada anak-anak. Simbol kampanye itu terlihat dari semua kostum atlet bulu tangkis anak-anak yang menyertakan merek rokok Djarum. Padahal, versi KPAI, sponsor rokok tidak diperbolehkan pada anak-anak.

Sudah tak terbilang kontribusi PB Djarum terhadap pembinaan atlet bulu tangkis Indonesia. Banyak gelar dunia yang lahir dari atlet-atlet besutan PB Djarum. Diawali pada 1984 ketika Indonesia berhasil merebut Piala Thomas di Kuala Lumpur, Malaysia. Tujuh di antara delapan atlet Indonesia saat itu merupakan jebolan PB Djarum. Mereka adalah Liem Swie King, Hastomo Arbi, Hadiyanto, Kartono, Christian Hadinata, Haryanto Arbi, dan Icuk Sugiarto. Pada era kekinian, salah satu atlet PB Djarum yang fenomenal adalah Kevin Sanjaya.

Torehan prestasi tersebut tentu tidak boleh dianggap remeh. Selama ini, belum ada prestasi dari cabang olaharaga lain yang mampu mengimbangi bulu tangkis. Bendera Merah Putih berkali-kali berkibar tertinggi di pentas dunia juga karena bulu tangkis.

Karena itu, ketika KPAI melakukan tudingan ngawur dengan menyebut adanya eksploitasi anak dalam program audisi beasiswa bulu tangkis yang digelar PB Djarum, tudingan itu terasa menyesakkan dada. Pantas saja kalau PB Djarum ngambek. Sebab, sebelum memutuskan untuk menghentikan audisi pembinaan atlet usia dini, PB Djarum ternyata sudah bersedia berkompromi. Misalnya, rela melepas logo atau atribut Djarum pada kostum atlet binaan mereka. Baik saat latihan maupun pertandingan. Termasuk, atribut Djarum tidak boleh menempel di kostum pelatih dan panpel pertandingan. Namun, belakangan KPAI menuntut lebih. Yakni, mereka meminta Djarum menghentikan kegiatan PB Djarum.

Agar polemik itu tidak berkelanjutan dan berdampak serius hingga pada merosotnya prestasi bulu tangkis, pemerintah harus segera turun tangan. Pemerintah harus bisa menjadi wasit untuk menengahi polemik itu. Sebab, barangkali KPAI ada benarnya. Namun, regulasi tidak bisa diberlakukan secara membabi buta. Ada kasus-kasus khusus yang harus menjadi bahan pertimbangan. Dalam hukum disebut diskresi.

Sementara pemerintah juga harus bisa meredam PB Djarum agar mencabut keputusan mereka. Sebab, tanpa peran Djarum, pembinaan atlet bulu tangkis kian berat. Tidak mudah mencari pihak swasta yang ’’segila’’ Djarum. Jika sampai PB Djarum benar-benar serius menghentikan pembinaan, lonceng kematian olahraga nasional kita sudah ditabuh. Cabang olahraga mana lagi yang kira-kira bisa menyumbangkan emas dalam Olimpiade seperti yang pernah diraih Taufik Hidayat pada 2004? Juga, hanya bulu tangkis yang bisa mengawinkan medali emas pada Olimpiade yang diukir Susy Susanti dan Alan Budikusuma pada 1992.

Berharap pada prestasi sepak bola, rasanya masih bak pungguk merindukan bulan. Terlalu jauh. Bersaing di tingkat Asia Tenggara saja, sepak bola kita belum bisa bicara banyak. Indonesia masih berada dalam bayang-bayang kekuatan Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Memanfaatkan momentum Hari Olahraga Nasional ini, permasalahan tersebut seharusnya menjadi renungan bersama. Olahraga bukan saja tanggung jawab pemerintah. Namun, semua pihak harus dilibatkan. Pengusaha, orang tua atlet, pembina, dan atlet itu sendiri punya peran penting.

Di tingkat birokrasi, selain Kementerian Pemuda dan Olahraga, dinas pendidikan, dinas pemuda dan olahraga, serta KONI tidak boleh pasif. Termasuk, kalangan jurnalis yang berkonsentrasi di bidang olahraga perlu bergerak bersama demi memajukan olahraga. Sebab, identitas sebuah bangsa juga tecermin dari prestasi olahraganya.

Brasil barangkali tidak akan dikenal jika tidak melahirkan pemain-pemain sepak bola berbakat. Kenya mungkin tidak pernah terdengar jika tidak mampu melahirkan atlet atletik kelas wahid dunia. Kita semua harus cancut taliwondo, kompak bersama-sama dengan semangat membangkitkan olahraga negeri ini. Selamat Hari Olahraga Nasional! (*)


*) Wartawan Jawa Pos Radar Malang; ketua Wartawan Olahraga PWI Malang Raya

Editor : Dhimas Ginanjar

Close Ads