Pemerhati anak Nahar. (ANTARA)
JawaPos.com - Pemerhati anak Nahar memandang maraknya kasus kekerasan terhadap anak pertanda kegagalan ekosistem perlindungan anak dari dalam rumah hingga ruang publik.
"Maraknya kasus kekerasan pada anak pertanda kegagalan ekosistem perlindungan anak dari dalam rumah hingga ruang publik," katanya saat menanggapi kasus kekerasan terhadap anak diduga oleh ibu tiri, yang berujung korban meninggal dunia di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Untuk itu, menurut Nahar, perlu terus diupayakan upaya pencegahan kekerasan dalam rumah/keluarga, serta meningkatkan kualitas pola pengasuhan agar tidak memicu permasalahan pada hubungan antaranak dan orang tua tirinya.
"Membangun lingkungan seperti tetangga, sekolah/pesantren, RT/RW yang responsif atau tidak boleh mengabaikan tanda-tanda anak memiliki masalah dalam rumah," kata Dosen Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung ini.
Selain itu, lingkungan juga harus mampu mendeteksi serta memberikan intervensi sejak awal bagi anak yang memiliki kesulitan melaporkan masalahnya dan mencari bantuan, serta memberikan pemahaman masalah kerentanan anak dalam pola kekerasan pengasuhan yang sudah berlangsung lama.
"Jika ada kematian akibat kekerasan, perlu memastikan apakah kematian tersebut semata-mata karena faktor pengasuhan yang tidak layak atau karena faktor lain yang diantaranya karena medis," kata eks Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak itu.
Sebelumnya, seorang anak laki-laki, 12, meninggal dunia diduga karena dianiaya oleh ibu tirinya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Korban meninggal dengan luka lebam dan luka bakar pada tubuhnya.
Korban sehari-harinya tinggal di pesantren. Namun saat kejadian, korban sedang libur untuk persiapan awal puasa bersama keluarga. Ketika itu, ayah korban yang tengah bekerja di Kota Sukabumi, ditelepon istrinya yang memintanya segera pulang dengan alasan korban jatuh sakit.
Setibanya ayah korban pulang ke rumah, korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Jampang Kulon untuk mendapatkan penanganan medis. Namun nahas, korban akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di RS tersebut.
Polres Sukabumi menduga ada kekerasan terhadap korban dalam kasus ini dan menaikkan status kasus ke tahap penyidikan. Polisi masih menunggu hasil otopsi korban.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
