Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Desember 2020 | 02.48 WIB

Perspektif Neurosains Menteri Korupsi

Photo - Image

Photo

RABU dini hari (25/11) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron mengatakan, penangkapan Edhy terkait dengan dugaan korupsi ekspor benur.

Tak sampai dua pekan, satu lagi menteri pemerintahan Jokowi tertangkap KPK. Menteri Sosial Juliari Peter Batubara resmi ditetapkan sebagai tersangka pengadaan bantuan sosial Covid-19. Kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan itu diduga menerima suap senilai Rp 17 miliar dari dua pelaksanaan paket bantuan sosial untuk penanganan Covid-19. Dia pun sudah menyerahkan diri Minggu dini hari (6/12) sekitar pukul 02.50 WIB ke Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan.

Dengan semakin banyaknya korban Covid-19 dan semakin sulitnya kehidupan masyarakat, seharusnya para pejabat tinggi pemerintah memberikan sebesar-besarnya empati dan bantuan. Agar kehidupan masyarakat tidak semakin terjepit dan Covid-19 bisa segera ditanggulangi. Namun, apa yang dilakukan menteri sosial ini begitu kejam dan sangat tidak bermoral. Boro-boro membantu, dia malah menggarong paket bantuan sosial penanganan Covid-19.

Merilis laporan lembaga Transparency International berjudul Global Corruption Barometer-Asia, Indonesia menjadi negara nomor tiga paling korup di Asia. Tahun 2007–2018, ada 7 menteri yang ditangkap KPK karena korupsi. Sepanjang 2014–2019, Kementerian Dalam Negeri mencatat ada 105 kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi daerah di 22 provinsi.

Mengapa seorang pejabat tinggi (menteri) yang seluruh kebutuhan hidupnya tercukupi, bahkan berlebihan, masih juga korupsi? Penyebabnya sangat banyak, baik yang bersifat multifaktorial maupun multidimensional. Karena sudah banyak dibahas, artikel ini tidak menyoroti hal itu, tapi membahasnya dari perspektif neurosains (sistem saraf).

Kesehatan adalah keadaan sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual yang memungkinkan seseorang bisa hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Ini mengacu pada UU Kesehatan No 36 Tahun 2009. Sesuai dengan struktur dan fungsinya, otak dibedakan menjadi tiga macam. Yaitu, otak sakit, otak normal, dan otak sehat. Otak sakit memiliki gejala sebagai berikut: perilaku abnormal, moral abnormal, deviasi mental, dan deviasi norma sosial. Di sini yang terganggu adalah anatomi (struktur) dan fisiologi (fungsi) otak.

Otak normal adalah otak yang memiliki struktur anatomis lengkap. Berbagai macam fungsi otak seperti gerakan tubuh, sistem pancaindra (melihat, mendengar, membau, mengecap, meraba), kesadaran dan perhatian terhadap lingkungan, kondisi emosi dan memori, kemampuan berpikir dan inteligensi, semuanya berfungsi secara normal.

Otak sehat lebih dari sekadar otak normal. Selain berfungsi baik, otak sehat memiliki nilai-nilai kehidupan dan spiritualitas yang baik. Nilai-nilai kehidupan tersebut meliputi karakter, kepribadian, perilaku, mental, etika, moralitas, dan humanisme yang semuanya berfungsi secara baik.

Karakteristik spiritual otak sehat berhubungan dengan persepsi bahwa apa pun yang seseorang lakukan akan memiliki dampak yang baik terhadap kehidupan. Otak sehat membuat hidup bahagia, menginspirasi lingkungan yang baik, kuat menghadapi cobaan hidup, dan sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual.


Ada dua macam ’’onderdil’’ otak yang berperan penting pada otak sehat. Yakni, prefrontal cortex (PFC) dan titik Tuhan (God spot). PFC adalah struktur yang terletak pada lobus frontalis (otak depan). Ia merupakan organ yang sangat vital terkait dengan keputusan hidup seseorang. PFC dapat mengendalikan emosi/mental, moral, pikiran, perilaku, kognisi, inteligensi, spiritual, dan lain-lain.

Setelah semuanya dipertimbangkan, akhirnya PFC melakukan eksekusi dalam bentuk perbuatan/perilaku. Jadi, bila PFC berfungsi baik, semua perilaku yang terkait dengan emosi, moral, pikiran, dan sebagainya juga bersifat baik.

Dengan scanner pencitraan radiologis, titik Tuhan (TT) ditemukan pada daerah limbik, lobus frontal/parietal dari otak. TT diaktifkan setiap kali seseorang merasa terlibat secara emosional dalam konteks global. Konteks global yang memberikan makna hidup yang mengacu pada kesucian seraya merasa berhadapan dengan Tuhan secara langsung. TT menjadi dasar spiritualitas seseorang.

Spiritualitas adalah suatu konsep tentang realitas imaterial atau suatu substansi mendalam sehingga memungkinkan individu menyadari esensi keberadaan dirinya dan nilai terdalam untuk apa manusia hidup. Pengalaman spiritual bisa menghubungkan individu pada realitas yang lebih luas. Menjadikan dirinya lebih komprehensif, merasa menyatu dengan alam kosmos yang besar.

Spiritualitas menjadi sumber inspirasi dan orientasi hidup. Juga menjadi kompas atau penunjuk arah kepercayaan terhadap realitas dan pengalaman imaterial dari apa yang disebut transcendent nature of the world. Jadi, bila spiritualitas berfungsi baik, semua perilaku yang terkait dengan emosi, moral, pikiran, dan sebagainya juga bersifat baik.

Dengan spiritualitas, seseorang merasa segala perbuatannya diawasi oleh Tuhan. Menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan Tuhan. Jadi, otak normal belum tentu sehat, tetapi otak sehat sudah pasti normal. Indikator otak sehat adalah berfungsinya PFC dan spiritualitas secara baik, yang mana keduanya ini tidak dimiliki oleh otak normal.

Bagaimana profil dan kondisi otak menteri yang korupsi? Untuk menjadi seorang menteri, tentu presiden tidak sembarangan memilihnya. Pastilah dia seorang yang sangat hebat, profesional, kompeten, memiliki integritas tinggi, dan cerdas. Memiliki rekam jejak cemerlang, simpatik, visioner, berwawasan luas, dan biasanya memiliki status ekonomi dan sosial yang sangat bagus.

Jadi, tidak ada sedikit pun yang kurang dalam hidupnya. Yang kurang hanyalah organ PFC dan sistem spiritualitas dalam otaknya yang tidak berfungsi dengan baik. Bila PFC tidak berjalan baik, kecerdasan dan kepintaran yang dimilikinya kalah total dengan nafsu serakah yang menggodanya. Bila spiritualitas berjalan bengkok, ritual agama yang dilakoni tidak mampu lagi membedakan mana yang halal dan haram. Semoga bermanfaat. (*)




*) Moh. Hasan Machfoed, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=kCLRPtRPY3U

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore