
Tercatat saat ini angka pengangguran terbuka di Indonesia sudah mencapai 7 juta orang. Ironisnya angka itu didominasi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
JawaPos.com - Tekad presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) untuk fokus pada peningkatan sumber daya manusia (SDM) di periode kedua mendapat apresiasi dari Partai DPP PKB. Pasalnya, sebanyak 4,2 persen dari 131 juta angkatan kerja di Indonesia hanyalah lulusan Sekolah Dasar (SD).
"Mayoritas mereka bekerja di sektor pertanian dan perikanan dan juga konstruksi. Data BPS menunjukan ada 55 jutaan orang yang sekolahnya hanya sampai SD, bahkan tidak tamat. Tidak heran tingkat literasi anak-anak kita di bawah rata-rata 72 negara lain," ujar Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKB Dita Indah Sari Indah kepada wartawan, Senin (22/7).
Karena itu, jangan tanya lagi soal kemampuan sains dan matematika. Sebab kemampuan mereka dalam membaca saja rendah, walaupun tidak buta huruf. Karena itu butuh peran negara yang masif.
"Kalau negara tidak intervensi habis-habisan melatih mereka, semua harapan revolusi digital, 4.0 dan sejenisnya ya susah kesampaian," katanya.
Menurut Dita, tekad ini harus diikuti dengan penataan kelembagaan, perencanaan kebutuhan tenaga kerja dan pelibatan secara penuh dunia usaha sebagai user atau pengguna. Percuma mahal-mahal keluar uang untuk melatih, kalau pada akhirnya tidak diserap industri karena skill-nya tidak cocok. Belum lagi menurut kalangan dunia usaha 50-70 persen lulusan S1 tidak siap kerja.
Oleh sebab itu, saat ini dibutuhkan supaya pemerintah membantuk Dewan Vokasi Nasional (DVN), sebuah lembaga pemerintah non departemen. Fungsi utamanya adalah mengatur seluruh perencanaan kebutuhan tenaga kerja.
"Profesi apa saja yang dibutuhkan, berapa jumlahnya, kapan, di mana, bagaimana jenis kompetensinya, bagaimana sertifikasinya dan lain-lain, itu di urus oleh DVN," katanya.
Masih menurut Dita, ide ini bukan latah atau asal-asalan. Selama ini banyak kementerian punya anggaran pelatihan sendiri, punya Balai Latihan sendiri. Namun perencanaan penggunaan anggaran itu tergantung keinginan masing-masing kementerian saja, bukan hasil dari perencanaan kebutuhan bersama yang terpadu.
Dewan atau Badan Vokasi ini tidak mengelola anggaran pelatihan. Anggaran itu bisa tetap di kementerian masing-masing. Namun alokasinya harus sesuai dengan kebutuhan nasional yang direncanakan secara terpadu.
"Jangan sampai yang dibutuhkan user apa, yang dilatih apa. Dewan Vokasi juga full melibatkan para user atau dunia usaha dalam perencanaan dan eksekusinya," ungkapnya.
Sehingga baginya, tekad Presiden Jokowi perlu dicarikan pola koordinasi yang pas, salah satunya bisa melalui Dewan Vokasi. Badan ini nantinya ada di bawah koordinasi Menko Perekonomian, bukan Menko PMK.
"Kenapa? Karena soal kompetensi SDM adalah soal employment, soal lapangan kerja, soal produktivitas. Masalah sosial itu eksesnya saja," pungkasnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
