
JAGA JARAK: Siswa SMAN 1 Kaur, Bengkulu, mengikuti ujian semester secara tatap muka kemarin (3/12). Pemerintah merencanakan pembelajaran tatap muka dimulai pada Januari 2021. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
JawaPos.com – Rencana pemerintah kembali membuka sekolah pada Januari 2021 mendapat dukungan DPR. Tidak efektifnya pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama masa pandemi menjadi salah satu alasannya. Meski begitu, pembelajaran tatap muka harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda menjelaskan, kebijakan sekolah tatap muka dikeluarkan dalam suasana dan situasi yang tidak mudah. ”Serumit lonjakan kasus Covid-19 yang semakin hari semakin tinggi,” tutur Syaiful dalam diskusi bertajuk Pro-Kontra Sekolah Tatap Muka di Tengah Pandemi di Media Center DPR kemarin (3/12).
Apalagi, lanjut dia, ada kekhawatiran terjadi second wave atau gelombang kedua pandemi.
Karena itu, ada banyak aspek yang menjadi pertimbangan dalam pembukaan sekolah.
Syaiful menuturkan, pihaknya mendukung kebijakan tersebut setelah melihat hasil evaluasi pelaksanaan PJJ. Pemerintah sudah memberikan subsidi kuota internet untuk pembelajaran secara online. Ada 37 juta peserta didik, guru, dan dosen yang mendapatkan bantuan tersebut. Namun, kata dia, harus diakui bahwa bantuan kuota internet belum memberikan pengaruh secara maksimal terhadap pelaksanaan PJJ.
Dia beberapa kali berkeliling ke daerah dan bertemu dengan para kepala sekolah. Saat Syaiful bertanya terkait dengan PJJ, lebih dari 50 persen sekolah menyatakan bahwa pembelajaran daring tidak efektif. Ada banyak faktor penyebabnya. Syaiful tidak bisa menyalahkan pihak mana pun. Apalagi, literasi guru terhadap digitalisasi pembelajaran baru dimulai. ”Adaptasi guru memindahkan cara belajar dari tatap muka ke daring juga tidak mudah,” terangnya.
Kendala berikutnya adalah kesiapan orang tua menjadi pendamping anak dalam pembelajaran secara daring. Bukan hal yang mudah. Sebab, banyak orang tua yang bekerja.
Sekjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Ainun Na’im menegaskan, sekolah tatap muka bukan kewajiban. Melainkan opsi dalam pembelajaran pada masa pandemi. Pembelajaran tatap muka juga sangat bergantung pada kesiapan daerah masing-masing. ”Kalau pemerintah daerahnya tidak memberikan izin, tentu sekolah tatap muka tidak bisa dilakukan,” ujarnya.
Menurut Ainun, sekolah tidak berwenang menetapkan bisa melaksanakan sekolah tatap muka atau tidak. Selain itu, pembelajaran tatap muka sangat bergantung kepada orang tua. Jika orang tua berkeberatan, siswa tidak harus mengikuti sekolah tatap muka.
Baca juga:

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
