Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 31 Agustus 2018 | 22.05 WIB

Wawancara Khusus Gubernur NTB Zainul Majdi soal Lombok Setelah Gempa

Gubernur NTB TGB Zainul Majdi saat bertandang redaksi JawaPos.com - Image

Gubernur NTB TGB Zainul Majdi saat bertandang redaksi JawaPos.com

JawaPos.com - Sejak lindu pertama berkekuatan 6,4 skala Richter pada 29 Juli, rentetan gempa terus mengguncang Lombok. Satu bulan berselang, bagaimana proses pemulihan di Lombok kini? Berikut wawancara khusus wartawan Jawa Pos Umar Wirahadi dengan Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH Zainul Majdi atau yang populer dengan panggilan Tuan Guru Bajang (TGB) di rumah dinas, Mataram, kemarin (30/8).


Bagaimana update penanganan gempa Lombok sampai sekarang?


Dalam konteks penanganan bencana, saat ini sudah memasuki fase transisi. Dari status tanggap darurat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi. Saat ini mulai dilakukan persiapan untuk keperluan berbaikan di lapangan.


Seperti pembersihan puing-puing akibat gempa. Di Lombok saja, sudah tersedia total 81 unit alat berat. Plus tiga unit disiapkan di Sumbawa. Ini dibutuhkan untuk keperluan pembersihan. Proses ini kira-kira membutuhkan waktu sampai sebulan ke depan. Meski begitu, tindakan tanggap darurat masih diberlakukan. Distribusi bantuan logistik sampai penanganan medis tetap berjalan.


Distribusi bantuan logistik di lapangan kabarnya tidak merata?


Ini harus dibenahi. Pasti saya cek. Prinsipnya, setiap posko tidak boleh menumpuk barang bantuan logistik. Harus segera didistribusikan. Karena masyarakat sangat membutuhkan. Informasi ini (distribusi yang tidak merata, Red) pasti saya cek. Pastikan distribusi secara merata. Ini harus dibenahi.


Apa yang paling dibutuhkan saat ini?


Salah satu yang jadi perhatian utama sekarang adalah proses belajar-mengajar. Saat ini sudah mulai pembelajaran di tenda-tenda darurat. Yang urgen adalah penambahan tenda-tenda. Ini sedang dipenuhi oleh Kemendikbud. Sebab, ada satu sekolah hanya punya satu tenda. Sedangkan kebutuhannya cukup banyak.


Tentang penanganan dampak psikologis pascagempa?


Sejak awal, saya berharap dampak gempa ini tidak berubah menjadi bencana sosiokultural. Tidak mengubah tata nilai dan ikatan sosial kemasyarakatan. Dampak gempa memang mengganggu mental dan psikis masyarakat. Di sinilah peran sentral para agamawan seperti ustad dan tuan guru (semacam kiai haji, Red) untuk membangun semangat masyarakat.


Peran relawan juga sangat kami butuhkan. Tidak hanya menyalurkan bantuan logistik, namun juga menangani dampak psikososial. Misalnya, membuka trauma healing untuk anak-anak korban gempa. Termasuk orang dewasa. Agar mereka tidak merasakan trauma berkepanjangan.


Bagaimana membangun kembali bangunan fisik yang hancur?


Saat ini bantuan dari pemerintah pusat mulai dicairkan. Sementara, bantuan sudah dicairkan untuk 5.400 warga terdampak gempa. Total nilainya Rp 285 miliar. Pencairan langsung dikirim ke rekening masing-masing penerima. Rumah yang rusak berat diberi Rp 50 juta. Yang rusak sedang Rp 25 juta dan rusak ringan Rp 10 juta. Untuk yang tidak punya rekening, pemerintah akan memfasilitasi.


Verifikasi dan validasi terus berjalan. Nah, warga yang sudah cair bantuannya bisa langsung membangun. Salah satunya membangun rumah tahan gempa. Baik berbentuk rumah bambu maupun rumah kayu. Masyarakat tinggal memilih model yang cocok. Dua model bangunan itu sudah ada di daerah Sembalun, Lombok Timur.


Bagaimana fasilitas publik?

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore