Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Agustus 2018 | 23.44 WIB

Perjuangan Kru Rumah Sakit Terapung demi Korban Gempa Lombok

MISI KEMANUSIAAN: Kru RST Ksatria Airlangga di Pelabuhan Bangsal. Lombok. - Image

MISI KEMANUSIAAN: Kru RST Ksatria Airlangga di Pelabuhan Bangsal. Lombok.


Keberadaan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga sangat membantu korban gempa yang mengalami patah tulang. Namun, sebelum sampai di Lombok, harus melewati perjalanan mendebarkan di Selat Bali.


UMAR WIRAHADI, Lombok Utara


---


SEORANG pria terbaring ringkih di atas bed. Tubuhnya tak bergerak. Itu efek bius yang diberikan oleh tim medis. Sebab, tak lama lagi dokter melakukan tindakan operasi kepada si pasien yang mengalami patah tulang itu.


Meski tidak sadar, tubuh pria 35 tahun tersebut tampak terayun-ayun di atas ranjang. Terombang-ambing. Bukan karena gempa bumi. Itu adalah efek gelombang air laut yang berdebur di Pelabuhan Bangsal, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Maklum, korban gempa tersebut menjalani operasi di rumah sakit sum kapal laut, RST Ksatria Airlangga.


Pada pukul 16.00 Wita, pasien yang bernama Fathurrahman tersebut akhirnya selesai menjalani operasi patah tulang pergelangan kaki kanan. Tindakan selanjutnya adalah pencucian luka.


Tim medis dan relawan memungkasi tugas dengan memasang gips di kaki kanan korban. "Operasi sudah selesai," ujar dr Ghuraba Adisurya, salah seorang dokter yang bertugas, Kamis lalu (23/8).


Pasien pun langsung dipindahkan ke ruang pemulihan. Setelah sekitar 30 menit di ruang itu, warga Desa Medana, Kecamatan Tanjung, KLU, tersebut dipulangkan dengan ambulans. Tentu saja ke tempat pengungsian. Sebab, rumahnya runtuh gara-gara gempa bumi 5 Agustus lalu.


"Setiap hari seperti ini. Pasien datang dan pergi. Tidak bisa di­inapkan karena ruangan terbatas," papar Direktur RST Ksatria Airlangga dr Agus Harianto SpB.


Fathurrahman adalah satu di antara puluhan pasien patah tulang yang dioperasi di RST Ksatria Airlangga. Hingga Kamis sore lalu, sudah ada 32 pasien yang ditangani. Seluruhnya korban gempa bumi yang men­derita patah tulang.


Bahkan, ada pasien yang sampai diamputasi. Sebab, luka yang diderita dikhawatirkan menyebar sebagai virus ke tubuh pasien. "Masih amputasi jari tangan, bukan tangan atau kaki. Mudah-mudahan tidak ada. Kasihan," ujar Agus.


Untuk sampai ke Pulau Lombok, perjuangan RST Ksatria Airlangga tidak gampang. Butuh tekad baja. Bahkan, pertaruhannya antara hidup dan mati.


Kapal kayu pinisi itu menghadapi ombak ganas saat berlayar. Terutama saat melintasi Selat Bali. Ketinggian ombak 2-3 meter. Sebelum berlabuh di Pelabuhan Bangsal, kapal pinisi yang berbobot 200 gross tonnage itu terombang-ambing di laut lepas.


"Demi misi kemanusiaan, kami sebagai kru kapal rela (menantang badai, Red)," ucap Agus.


Dokter spesialis bedah itu menceritakan, semangat pendirian ru­mah sakit terapung tersebut memang memberikan pelayanan kesehatan ke daerah-daerah terpencil. Terutama di Indonesia Timur.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore