JawaPos Radar

Toa dan Alat Bantu Dengar

Oleh CANDRA MALIK, Budayawan Sufi

24/08/2018, 17:10 WIB | Editor: Ilham Safutra
Toa dan Alat Bantu Dengar
Toa menjadi awal kasus yang menyeret Meiliana ke penjara. (Pixabay.com)
Share this image

JawaPos.com - Meiliana, seorang perempuan Tionghoa, divonis penjara 18 bulan karena protes terhadap penggunaan pengeras suara di masjid depan rumahnya di Tanjung Balai, Sumatera Utara. Toa menyeruak kembali ke permukaan. Tak lagi hanya untuk menandai telah masuknya waktu salat, tapi juga untuk menandai siapa penista agama Islam. Berempati kepada Meiliana, apakah saya toleran kepada nonmuslim dan intoleran pada sesama?

Saya muslim sejak lahir. Setidaknya, sejak ayah saya mengumandangkan azan ke telinga mungil saya sesaat setelah saya dilahirkan. Menurut ibu, ayah rajin membaca Q.S. Yusuf dan meniup perlahan ke atas perut ibu semasa ia mengandungku.

"Seperti berbisik, lirih, satu demi satu ayat, ia baca sambil mengelus-elus perut ibu," tuturnya. Dari sanalah, saya belajar betapa Islam adalah kelembutan.

Toa dan Alat Bantu Dengar
Meiliana, terdakwa kasus dugaan penistaan agama di PN Medan. ()

Saya muslim sejak lahir. Setidaknya, muslim dalam artian orang beragama Islam. Jika diartikan orang yang telah berserah diri kepada Allah, belum.

Saya masih banyak mengeluh, menggerutu, komplain, dan tidak terima. Padahal, jika dikerucutkan, masalah kita satu-satunya adalah tidak terima. Dan, satu-satunya jalan keluar masalah itu adalah terima. Berat menjadi seorang muslim yang qanaah atau rela menerima. Saya muslim sejak lahir. Setidaknya, sejak pendengaran dan penglihatanku tumbuh berkembang, lantunan ayat suci Alquran adalah asupan rohani yang ibu suapkan padaku. Tak pernah sekali pun pukulan ibu mendarat ke tubuhku untuk mengingatkan kewajiban salat.

Teriakan saja tidak. Paling tegas, ibu bertanya, "Sudah shalat?" Begitu pula ayah. Saya bersyukur mengenal Islam tanpa kekerasan dan paksaan.

Tapi, jika dihitung-hitung, tidak cukup lama saya hidup di dalam rumah dan dalam rengkuhan ayah ibu. Saya lebih banyak hidup di luar rumah. Dari sana, saya mengenal satu kata yang punya makna dahsyat, yaitu muslimin.

Apa bedanya dengan muslim? Jika muslim tunggal, muslimin itu jamak. Muslimin adalah sekelompok muslim. Jika muslim diartikan orang yang telah berserah diri kepada Allah, betapa dahsyat muslimin. Tapi, sepertinya, saya tidak sendiri. Ya, saya tidak sendirian sebagai muslim, yang dalam arti orang yang beragama Islam. Jujur saja, saya belum bisa total dalam berserah.

Untuk memuji Allah dalam salat, zikir, dan doa, saya masih membutuhkan alat bantu dengar. Tak tahu mengapa, apa yang saya ucap sering tidak sama dengan yang saya batin. Lebih dari itu, saya acap tak bisa mendengar kata hati saya sendiri.

Dan, itulah paradoks yang saya alami di luar rumah. Pengeras suara di masjid-masjid yang berdekatan, bersuara pada saat yang bersamaan: tibanya waktu salat. Tentu, dengan tempo, volume, dan vokal yang bermacam.

Dulu, ketika masih remaja, saya suka sekali dengan lantunan tahrim Sirajuddin di masjid dekat rumah. Setiap ia membaca Alquran atau mengumandangkan azan, hati bergetar merasakan keindahannya. Tapi, seiring waktu, keindahan suara dan kedalaman spiritualitas Sirajuddin tergantikan oleh kaset-kaset qira'atul Quran. Memang tidak etis bicara soal kualitas vokal muazin, tapi setidaknya perlu didengarkan betapa kita memiliki persoalan pada kecakapan memakai alat pengeras suara, baik itu mikrofon maupun volume. Jika kita berteriak di depan mikrofon yang disetel dengan volume tinggi, hasilnya adalah bising.

Sebaliknya, jika kita mau belajar kapan harus bersuara tinggi dan bagaimana seharusnya mikrofon diperlakukan, plus pengelolaan volume yang bijak, hasil yang bisa kita harapkan adalah hening. Bising dan hening sama menembus pendengaran. Tapi, bising mengoyak kepala hingga kita merasakan pening. Hening menggetarkan dada hingga kita merasakan bening. Dalam kebeningan itulah kita diharap bisa jernih melihat.

Dari sinilah, saya belajar memahami mengapa Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Terasa berbeda, memang, antara meneriakkan azan dan melantunkannya. Saya juga semakin bisa memahami mengapa ada bagian dalam Alquran, yang syahdan tepat di jantungnya, yang diwarnai merah, yakni walyatalathaf atau lemah-lembutlah. Allah juga menyukai makhluknya yang berdoa dengan lirih. Setengah berbisik.

Tapi, akhir-akhir ini agama lebih sering dibela dengan teriakan, bahkan dalam dakwah. Seraya mengepalkan tangan, meneriakkan takbir, menghujat siapa pun yang berbeda dan berseberangan, dan bahkan melaknat dengan predikat kafir dan ahli neraka. Semua diserukan dalam volume tinggi yang memekakkan telinga. Seolah kita punya persoalan dengan mendengar suara lirih, lembut, pelan. Intonasi menunjukkan emosi.

Padahal, dakwah itu mengajak, bukan mengejek. Merangkul, bukan memukul. Menenteramkan, bukan menyeramkan. Menenangkan, bukan menegangkan. Memuliakan, bukan menghinakan. Mengobati, bukan menyakiti. Dan, ini menurut saya, yang paling penting dakwah itu membahagiakan, bukan membahayakan. Alangkah indahnya Islam didakwahkan demikian, bukan?

Saya, saya yakin juga Anda, kita, akan mudah menitikkan air mata jika diajak berdoa dalam kekhusyukan suara imam yang teduh, lembut, lirih. Juga, begitu mudah sanubari tergetar mendengar ayat suci Alquran, azan, salawat, dan puji-pujian lain ketika dilantunkan dengan kebeningan hati dan keindahan tata suara. Terasa benar betapa rapuh kalbu ini dan serasa memohon dipeluk langsung oleh Allah Yang Maha Lembut.

Izinkan saya menebak-nebak, Meiliana juga menginginkan itu. Dalam konteks dakwah, saya berharap umat muslim tidak lagi menyebut orang-orang yang beragama dan berkeyakinan berbeda sebagai nonmuslim.

Tak hanya karena saya tak mau disebut non-Kristen, non-Katolik, non-Hindu, non-Buddha, atau non-Khonghucu. Namun, lebih dari itu saya mengajak mari menyebut mereka calon muslim. Terasa ada doa di dalamnya.

Jika memang agama adalah kebenaran, mari kita berhenti saling menyalahkan. Apalagi, Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin, anugerah bagi siapa pun, di mana pun, kapan pun, dan bagaimana pun keadaannya.

Tidak hanya untuk muslimin, tapi untuk seluruh makhluk Allah, bahkan yang belum beriman kepada-Nya. Sebab, sesungguhnya setiap insan memiliki hak dan kerinduan yang sama untuk memperoleh hidayah Allah.

Untuk dapat menerima keberagaman dalam keberagamaan, dibutuhkan kecerdasan spiritual yang bertumbuh dengan baik. Terlebih di Indonesia, tanah pusaka yang ditinggali ratusan, bahkan ribuan suku bangsa dengan keanekaragaman bahasa, tradisi, dan keyakinan.

Pelan tapi pasti, sebagian dari kita mengeraskan tidak hanya suara, namun juga hati kita. Padahal, Rasulullah SAW meneladankan kelembutan hati dalam menyempurnakan akhlak yang mulia.

Tentu, kita selayaknya berterima kasih kepada siapa pun, terutama muazin, yang telah mengingatkan tibanya waktu salat. Tiba waktu beribadah, berserah kepada Allah. Sebab, itulah saat belajar kita untuk menjadi muslim yang hakiki.

Sekarang, tinggal bagaimana sama-sama kita belajar mengelola hati. Let the loud speaker speaks loud inside, lantangkanlah kata hati kita di dalam hati kita untuk menzikirkan keagungan Allah. Allahu Akbar, Maha Besar Allah. Gemuruh dalam jiwa menggerakkan raga kita untuk bersujud kepada-Nya. Lebih dari sekadar toa, pengeras suara, kita membutuhkan alat bantu dengar. Untuk mendengar kata hati kita sendiri.

(*)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up