
Pollycarpus Budihari Prijanto resmi bebas murni pada Rabu (29/8). Mantan pilot Garuda Indonesia (GI) itu adalah salah satu aktor yang terlibat dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir.
JawaPos.com - Pollycarpus Budihari Prijanto resmi bebas murni pada Rabu (29/8). Mantan pilot Garuda Indonesia (GI) itu adalah salah satu aktor yang terlibat dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir.
Polly (panggilan Pollycarpus) yang divonis 14 tahun penjara oleh pengadilan mendapatkan pembebasan bersyarat dari Kementerian Hukum dan HAM pada 24 November 2014.
Sejumlah aktivis HAM merasa kecewa atas bebasnya Polly dari jeratan hukum. Pasalnya pemerintah hingga saat ini belum kembali membuka hasil Tim Pencari Fakta Kasus Meninggalnya Munir (TPFKMM). Bahkan, komitmen Presiden Joko Widodo dalam menyelsaikan persoalan ini pun dipertanyakan. Pasalnya, kematian Munir termasuk dalam kasus pelanggaran HAM berat.
Direktur Lokataru Haris Azhar menyatakan, pemerintah harus menyelesaikan kasus kematian Munir untuk memberikan keadilan terhadap istri Munir, Suciati, maupun kedua anaknya, Alif dan Diva.
Sehingga, lanjut Haris, Presiden Joko Widodo harus kembali membuka TPFKMM yang sebelumnya telah di serahkan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 24 Juni 2005.
“TPFKMM itu sebetulnya ada levelnya Polly, Muchdi dan Hendropriyono. Terus dilaporan itu juga disebutkan institusi yang digunakan untuk menjadi pendukung terjadi pembunuhan terhadap Munir,” kata Haris kepada JawaPos.com, Minggu (2/9).
Meski laporan dokumen TPFKMM itu dinyatakan tiada oleh Menteri Sekertaris Negara era SBY, Sudi Silalahi. Namun hal itu tetap menjadi tanggung jawab Presiden Jokowi untuk dapat membuka dan mengumumkannya ke publik.
"Sebab, sejak 2005 hingga saat ini masyarakat tidak tahu persis isi laporan itu," ujar Haris.
Menurut Haris ditahannya mantan pilot Garuda itu, pada awalnya agar Polly tidak lari dari jeratan hukum. Namun faktanya, ternyata tidak ada keseriusan dari pemerintah untuk mengungkap kembali siapa aktor lapangan dan aktor intelektual dari pembunuh Munir.
“Habisnya masa hukuman terhadap Polly ini jadi seperti PR (pekerjaan rumah) besar untuk pemerintah, mengingat bahwa yang lainnya belum terselesaikan dan Polly sudah keburu bebas,” papar Haris.
Diketahui, saat ini Polly yang dekat dengan keluarga Cendana menjadi kader Partai Berkarya dibawah naungan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Polly pun ikut bertarung menjadi caleg DPR RI pada Pemilu 2019.
“Sekarang makin susah apalagi Polly menjadi caleg DPR, bisa dibayangkan calon anggota dewan pembunuh,” tutur Haris.
Selain itu, Haris juga merasa tidak puas dengan keputusan bebas murni itu Karena Polly hanya menjalni masa hukuman selama 8 tahun penjara. "Alasannya karena dia banyak membantu di dalam lembaga pemasyarakatan. Kemudian, dia dihukum 8 tahun seharusnya 14 tahun. Saya yakin itu simbolis aja,” jelas Haris.
Sementara itu, Kepala Bidang Advokasi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) Putri Kanesia menyatakan, pembebasan bersyarat kepada Pollycarpus sejak 2014 tidak merepresentasikan sikapnya dalam persidangan yang ketika itu tidak koperatif.
“Dia (Pollycarpus) mendapat pembebasan bersyarat itu karena dia berkelakuan baik, kemudian dia aktif ikut pramuka, bikin sabun dan lain-lain di dalam tahanan,” papar Putri.
Namun saat menjalani sidang sebagai terdakwa, lanjut Putri, Polly tidak koperatif menyebutkan siapa saja aktor yang terlibat dalam pembunuhan Munir. Sehingga alasan bebas bersyarat hingga akhirnya bebas murni dinilai belum memberikan rasa keadilan.
“Sampai hari ini pun negara hanya mampu mengadili pelaku lapangan saja tanpa mengadili pelaku aktor intelektual dalam kasus pembunuhan Munir,” urai Putri.
Oleh karena itu, di sisa masa pemerintahan Presiden Jokowi ini, para aktivis HAM meminta komitmen pemerintah untuk serius menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat, khususnya pembunuhan Munir.
“Pak Jokowi pernah bilang pada 2016 kepada ahli-ahli hukum di Istana, PR kita adalah kasus HAM berat masa lalu termasuk kasus Mas Munir. Jadi nama Mas Munir itu disampaikan secara gamblang di hadapan media,” pungkasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
