
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan beras SPHP diduga dibongkar dari kemasan, kemudian diolah dan dikemas ulang untuk dijual sebagai beras premium. (Istimewa)
JawaPos.com - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut dugaan pengoplosan 600 ton beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) berpotensi menimbulkan kerugian negara hingga Rp 3,3 miliar.
Kerugian tersebut berasal dari subsidi pemerintah yang seharusnya membantu masyarakat mendapatkan beras dengan harga terjangkau, tetapi diduga tidak sampai kepada sasaran.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman mengatakan beras SPHP diduga dibongkar dari kemasan, kemudian diolah dan dikemas ulang untuk dijual sebagai beras premium.
"Ini sudah tidak sehat (beras SPHP) dibongkar, dijual ke pasar (sebagai) premium karena berasnya ini bagus. Beras produksi kita bagus, ini beras lokal, bukan diimpor. Ini diolah kemudian diproses ulang. Dikemas ulang," kata Amran di Jakarta, Sabtu (31/10).
Bapanas menghitung potensi kerugian negara berdasarkan volume beras SPHP yang diduga disalahgunakan. Dalam surat penugasan tambahan kedua program SPHP kepada Perum Bulog yang terbit pada pertengahan Oktober 2026, pemerintah menyiapkan anggaran Rp 694,3 miliar untuk penyaluran 125,8 ribu ton beras.
Dengan perhitungan tersebut, nilai subsidi mencapai sekitar Rp 5.510 per kilogram. Jika dikalikan dengan 600 ton beras yang diduga dioplos, nilai subsidi yang berpotensi tidak sampai kepada masyarakat mencapai sekitar Rp 3,3 miliar.
Amran menilai praktik tersebut merugikan masyarakat sekaligus mengkhianati tujuan pemerintah dalam memberikan subsidi pangan.
"Ini memang kejam. Bayangkan, (beras SPHP) ini kemasan khusus untuk rakyat Indonesia dan ini disubsidi pemerintah. Nah ini pengkhianatan, mengkhianati petani 115 juta orang dan juga merugikan konsumen," tegas Amran yang juga Menteri Pertanian.
Ia mengatakan pemerintah telah memberikan dukungan besar kepada sektor pertanian, baik melalui subsidi di hulu maupun di hilir.
Menurut Amran, subsidi sektor pertanian pada 2026 mencapai Rp160 triliun. Sementara pada 2025, nilainya mencapai Rp 144 triliun. Dukungan tersebut antara lain diberikan untuk pupuk, traktor, alat dan mesin pertanian, serta kebutuhan lain untuk mendukung produksi pangan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
Mengulik Penyebab Rans Carnival Diboikot, Deklarasi Mahasewa hingga Share Revenue UMKM 20 Persen
Profil AKBP Netty Rosdiana, Istri Jenderal Polisi yang Pernah Sindir Seskab Teddy 'Lupa Daratan'
Prediksi Skor Garudayaksa vs PSS Sleman: Sama-Sama Terluka, Duel Pakansari Rawan Berakhir Imbang
5 Pekerjaan Terbaik untuk Introvert, Pilihan Karir yang Sesuai dengan Kelebihan Diri
Fitrah Maulana Syukuri Debut dan Cleansheet di ACL Two Bersama Persib Bandung
Prediksi Skor Garudayaksa FC vs PSS Sleman: Kejutan atau Deja vu Final Championship Musim Lalu
Prediksi Skor Dewa United vs Persija di Super League: Macan Kemayoran Amankan Poin Penting di Banten
Matheus Lagoa Segera Bela Persebaya Surabaya, Cedera Betis Pulih, 30 Gol Jadi Modal
Jack Miller Ungkap Alasan Marah di Sprint Race MotoGP Malaysia, Minta Maaf ke Pramac Yamaha

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022