Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 28 Oktober 2026 | 16.13 WIB

Menperin Peringatkan Importir, Gula Rafinasi Jangan Bocor ke Pasar

Tebu-tebu milik petani yang akan digiling di PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). (ANTARA/HO-PT SGN) - Image

Tebu-tebu milik petani yang akan digiling di PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). (ANTARA/HO-PT SGN)

JawaPos.com - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji memperingatkan importir dan produsen gula rafinasi agar menjaga distribusi produknya supaya tidak masuk ke pasar gula konsumsi. Kebocoran tersebut dinilai dapat merugikan petani tebu nasional yang memasok kebutuhan gula konsumsi dalam negeri.

“Kita minta dengan sangat kepada AGRI (Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia) supaya gula rafinasi ini tidak bocor di konsumen. Karena kalau bocor menjadi gula konsumsi, itu seperti kita menikam saudara kita sendiri,” tegas Sarmuji di kantor Kementerian Perindustrian, Selasa (27/10).

Gula rafinasi dibutuhkan industri makanan, minuman, dan farmasi sehingga pemenuhannya masih bergantung pada impor. Namun, menurut Sarmuji, utilisasi gula rafinasi untuk industri makanan-minuman dan farmasi saat ini baru sekitar 60 persen.

“Peningkatan utilisasi industri makanan dan minuman serta farmasi akan semakin meningkatkan kontribusi sektor ini terhadap perekonomian negara,” ujarnya.

Di sisi lain, kebutuhan gula konsumsi masyarakat disebut telah tercukupi oleh produksi dalam negeri yang berasal dari panen petani tebu nasional. Karena itu, pemerintah meminta kepastian agar gula rafinasi tetap digunakan sesuai peruntukannya sebagai bahan baku industri.

“Jadi saya sebagai Menteri ingin mendapatkan kepastian dari AGRI, komitmen supaya gula rafinasi ini tidak bocor ke konsumen. Jadi kita sama-sama jaga. Kita berikan jaminan ketercukupan gula rafinasi sebagai bahan baku industri, tetapi sebaliknya kita juga meminta dengan sangat dan akan kita awasi dengan ketat supaya gula rafinasi tidak bocor ke konsumen ya, sebagai gula konsumsi,” ucap politisi Partai Golkar tersebut.

Sarmuji memahami dampak kebocoran gula rafinasi terhadap petani, terutama karena daerah pemilihan yang pernah diwakilinya di DPR, yakni Jawa Timur 6, meliputi Kabupaten Blitar, Kediri, Tulungagung, dan Kota Kediri. Wilayah tersebut merupakan salah satu daerah penghasil pangan, termasuk tebu.

“Ketika pasar dibanjiri oleh gula rafinasi yang semestinya untuk industri, gula dalam negeri sulit terjual dan petani menderita kerugian besar,” paparnya.

Pemerintah juga perlu mengantisipasi lonjakan permintaan gula rafinasi menjelang Natal dan Tahun Baru, yang kemudian disusul Ramadan dan Idul Fitri pada awal 2027.

Produksi 3 Juta Ton pada 2026

Ketua Umum AGRI Supriadi menyatakan pihaknya berkomitmen menyalurkan gula rafinasi sesuai ketentuan yang berlaku, yakni sebagai bahan baku industri makanan, minuman, dan farmasi.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore