Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 September 2026 | 05.59 WIB

Wacana Black September Merebak, Publik Diminta Tak Terjebak Ketakutan

Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens dalam diskusi bertajuk 'Siapa yang Terbaik untuk Indonesia di 2024?: Analisis Independen' di Jakarta, Jumat (26/5). - Image

Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens dalam diskusi bertajuk 'Siapa yang Terbaik untuk Indonesia di 2024?: Analisis Independen' di Jakarta, Jumat (26/5).

JawaPos.com - Wacana mengenai "Black September" belakangan ramai diperbincangkan di tengah masyarakat, termasuk melalui media sosial. Istilah tersebut dikaitkan dengan kekhawatiran munculnya aksi yang dinilai dapat mengganggu stabilitas politik pada September.

Analis politik dan isu intelijen, Boni Hargens, menilai kemunculan wacana tersebut tidak sepenuhnya mengejutkan. Menurut dia, September memiliki sejumlah catatan sejarah yang kuat dalam perjalanan bangsa Indonesia sehingga berpotensi dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk membangun narasi politik.

“Bulan September memang sarat dengan momen-momen bersejarah penting di Indonesia, dan hal itulah yang menjadi daya tarik bagi pihak-pihak tertentu untuk memanfaatkannya," kata Boni kepada wartawan, Jumat (18/9).

Boni mengatakan, sejumlah peristiwa yang terjadi pada September membuat bulan tersebut memiliki resonansi emosional dan politik tersendiri. Salah satunya adalah Tragedi Semanggi II yang berlangsung pada 24 September 1999 ketika aksi demonstrasi mahasiswa menolak Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB) berujung bentrokan dan menewaskan sejumlah mahasiswa, termasuk Yap Yun Hap dari Universitas Indonesia.

“Salah satu contoh adalah Tragedi Semanggi II (24 September 1999) yang merupakan aksi demonstrasi mahasiswa berskala besar menolak Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB) yang direspons represif oleh aparat, menewaskan beberapa mahasiswa termasuk Yap Yun Hap dari Universitas Indonesia,” ujarnya.

Menurut Boni, latar belakang sejarah tersebut dapat digunakan oleh aktor tertentu untuk membangun persepsi seolah-olah terdapat ancaman besar yang akan terjadi. Ia menilai penggunaan istilah "Black September" juga berpotensi menciptakan tekanan psikologis di tengah masyarakat.

Meski demikian, Boni meminta publik tidak larut dalam kekhawatiran. Dia menyebut aparat keamanan, yakni Polri bersama BIN dan TNI, memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai situasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan stabilitas nasional.

Boni juga mengingatkan bahwa ketakutan publik yang berlebihan justru dapat memperbesar dampak dari narasi yang beredar. 

“Alasan kedua adalah rasa takut yang justru memperkuat gerakan itu sendiri. Ketakutan yang berlebihan terhadap wacana Black September justru memperkuat efek dari gerakan itu sendiri. Narasi ketakutan adalah bagian dari strategi destabilisasi yang ingin dicapai para pelakunya,” lanjut Boni.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore