Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (21/4). (Muhamad Ridwan/JawaPos.com).
JawaPos.com - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menilai tindak pidana judi online (judol) perlu dimasukkan dalam kategori kejahatan, yang dapat dikenai ketentuan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset.
Menurut Mahfud, transaksi yang terjadi dalam praktik judi online memiliki nilai sangat besar. Karena itu, penanganannya dinilai tidak cukup hanya menyasar pelaku di lapangan, tetapi juga harus mampu membongkar dan menindak pihak yang berada di balik bisnis tersebut.
"Itu harus masuk menurut saya. Kenapa judi online tidak? Justru transaksi uang yang besar-besaran itu justru judi online juga," kata Mahfud MD dalam siniar YouTube, Minggu (13/9).
Baca Juga:Kapal Virgo Surabaya-Banjarmasin Hilang Kontak di Perairan Laut Jawa, Berpenumpang 243 Orang
Mahfud mengatakan, penerapan mekanisme perampasan aset dapat menjadi salah satu instrumen untuk membuat pemberantasan judi online lebih menyeluruh. Terlebih selama ini, penanganan kasus judol dinilai kerap berhenti pada pelaku operasional.
"Sehingga judi online itu lalu selama ini juga penyelesaiannya tidak tuntas, hanya menyangkut pelaku-pelaku lapangan, operatornya ndak. Kalau ada begini kan bisa, undang-undang perampasan aset gitu," teganya.
Selain persoalan judi online, Mahfud turut menyoroti proses pembahasan RUU Perampasan Aset yang saat ini berlangsung di DPR RI. Dia meminta pemerintah dan parlemen tidak menutup diri dalam proses penyusunan regulasi tersebut.
Menurutnya, keterbukaan diperlukan agar masyarakat dapat mengetahui perkembangan pembahasan sekaligus memberikan masukan terhadap substansi aturan yang akan dibuat.
"DPR dan pemerintah sekarang harus membuka diri, ya kan. Di pemerintah itu kebiasaannya kalau sudah ada RUU kan di-upload di kantor pemerintah," ujarnya.
Mahfud menekankan pentingnya transparansi sejak proses penyusunan hingga pembahasan pasal-pasal RUU Perampasan Aset. Dia mengingatkan, proses yang tidak terbuka justru berpotensi membuat regulasi tersebut sulit mendapatkan dukungan publik.
"Dulu misalnya di kantor Polhukam. Ya kalau ada apa, upload di sana, terus yang di Setneg, yang di Kumham gitu, sehingga rakyat baca ini lho perkembangan terakhir gitu. Kalau petak umpet begini ya nanti gagal ini," tuturnya.
Karena itu, Mahfud meminta rancangan pasal dalam RUU Perampasan Aset turut dibuka kepada publik. Dia juga menilai masyarakat harus diberikan ruang untuk terlibat dalam proses pembahasan melalui mekanisme partisipasi publik.
"Ya harus, harus diumumkan. Ini yang sekarang sedang dibahas oleh DPR. Lalu RDPU, ya pelibatan masyarakat," pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Prediksi Skor Madura United vs Arema FC: Pertarungan Seru Ze Gomes dan Andre Caldas
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Prediksi Skor Toulouse vs Strasbourg: Les Violets Berusaha Akhiri Paceklik Gol di Kandang
Prediksi Skor Cagliari vs Frosinone: Canarini Bidik Akhiri Kutukan 13 Tahun
Prediksi Skor PSIM Yogyakarta vs Dewa United: Banten Warriors Curi Kemenangan di Sultan Agung
Kamera Pengintai Identifikasi 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022