Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto saat mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau karhutla. (BNPB)
JawaPos.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) fokus menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) dalam menanggulangi karhutla di Sumatera dan Kalimantan. Langkah ini diperkuat dengan operasi pemadaman di darat dan penegakan hukum.
Kepala BNPB, Suharyanto mengatakan, penanganan karhutla fokus di enam provinsi prioritas. Yakni Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Petugas di lapangan telah mendapat arahan fokus pada kombinasi operasi modifikasi cuaca (OMC), operasi darat, operasi udara, dan penegakan hukum.
“Tahun 2026 ini prediksi BMKG El Niño kuat dan memang betul-betul terbukti. Luas lahan terbakar di provinsi-provinsi prioritas lahan gambut meningkat,” ujarnya, Sabtu (12/9).
Jenderal TNI bintang 3 ini memaparkan, OMC menjadi solusi paling efektif dalam menanggulangi karhutla dibanding 2 model pemadaman lainnya.
Operasi darat menempati peringkat kedua, terutama untuk lahan gambut yang api bawah tanahnya sulit dipadamkan. Water bombing berada di urutan ketiga karena kapasitas angkut air terbatas, sekitar 4 ton per sorti.
“Namun ketiganya tidak bisa dipisahkan. Water bombing memadamkan kepala api, lalu pasukan darat masuk membasahi lahan. Tanpa water bombing, pasukan darat juga berisiko,” imbuhnya.
Suharyanto menjelaskan, lahan gambut membutuhkan penanganan khusus. Sebab, api masih bisa membara di lapisan bawah tanpa terlihat dari permukaan tanah.
BNPB harus menggunakan alat suntik gambut untuk memasukkan air hingga kedalaman 1–2 meter untuk memastikan api benar-benar padam.
“Lahan gambut tidak cukup disiram sekali dua kali. Butuh pembasahan sampai kedalaman, sampai tanahnya berubah seperti bubur. Kami punya alat suntik gambut,” jelasnya.
Dalam kunjungan peninjauan karhutla di Kalimantan, Wakil Presiden menerima pemaparan dari Kalaksa BPBD Provinsi Kalimantan Selatan. Dari tiga provinsi di Kalimantan yang terdampak karhutla, Kalimantan Selatan relatif lebih ringan.
“Hari ini hanya memadamkan lahan kurang lebih 36 hektare. Tapi besok belum tentu segitu karena besok ada patroli lagi, siapa tahu ada titik api baru atau titik lama hidup lagi,” ujar Suharyanto.
Terkait dengan jarak pandang sangat terbatas hingga banyak pesawat tidak bisa landing maupun take off di Palangkaraya, Suharyanto mengatakan karena kondisi gambut yang tidak biasa. Sebab, ketika api padam, asap masih bisa terus mengepul.
“Apinya berhasil dipadamkan, tapi asapnya keluar terus. Itulah yang mengganggu penerbangan, kehidupan masyarakat,” pungkasnya.