
Erupsi Gunung Semeru (Istimewa).
JawaPos.com - Tudingan mengenai fenomena erupsi beruntun enam gunung api di Indonesia akibat rekayasa teknologi maupun senjata konspirasi asing seperti High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) dinilai sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian.
Pegiat mitigasi bencana dan pakar sains, Dr. Daryono, menegaskan bahwa seluruh aktivitas vulkanik yang terjadi murni disebabkan oleh dinamika tektonik dan proses konveksi alamiah bumi.
Pernyataan ini merespons spekulasi yang dilontarkan Deputi Bakom, Ulta Levenia Nababan.
Melalui akun media sosial pribadinya, Ulta mempertanyakan kemungkinan adanya keterkaitan antara fenomena erupsi beruntun ini dengan proyek HAARP serta momentum geopolitik usai kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.
Baca Juga:Perkara Rumah Jawatan Kepala Kantor Pos dan Telegraf, Wali Kota Gorontalo Bakal Polisikan Fadli Zon
Meski mengakui pandangannya bersifat pribadi dan belum memiliki bukti ilmiah, narasi tersebut memicu perhatian publik.
Menanggapi spekulasi tersebut, Dr. Daryono menjelaskan bahwa dalam terminologi geologi, tektonik, dan geofisika, erupsi gunung api merupakan pelepasan energi endogenik bumi berskala sangat masif. Skala energi ini mustahil dibangkitkan, disimulasi, apalagi dikendalikan oleh teknologi buatan manusia mana pun.
Energi yang memicu erupsi berasal dari dinamika mantel bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan. Proses ini terjadi ketika magma naik akibat gaya apung karena densitasnya lebih rendah dari batuan sekitar, disertai penumpukan tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.
"Tekanan di kantong magma ini mencapai ratusan MegaPascal. Tidak ada teknologi gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang sanggup menembus kedalaman kerak bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja," tegas Daryono, Selasa (8/9).
Dilihat dari batuan hukum fisika, lapisan batuan padat setebal puluhan kilometer bersifat meredam gelombang elektromagnetik pada jarak yang sangat pendek.
Oleh karena itu, sinyal buatan manusia tidak memiliki mekanisme interaksi fisik untuk menggerakkan magma di kedalaman. Manusia juga tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk merekayasa pergerakan jutaan meter kubik magma bersuhu hingga 1.200 derajat Celsius.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022