Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 03.43 WIB

Golkar Sebut Pidato Kenegaraan Prabowo Bangun Optimisme Pembangunan Nasional

Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 dinilai disampaikan secara realistis karena bertumpu pada data, capaian kinerja, sekaligus proyeksi pembangunan nasional ke depan.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham, mengungkapkan, pernyataan Prabowo juga dinilai memiliki pesan motivasional yang kuat untuk membangun optimisme masyarakat terhadap masa depan Indonesia.

"Pidato beliau kuat membangun kepercayaan diri nasional bahwa Indonesia memiliki fondasi kuat untuk bertransformasi, bergerak maju, menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang selama ini belum terselesaikan," kata Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham kepada wartawan, Jumat (14/8).

Menurut Idrus, dalam Sidang Tahunan MPR 2026, Prabowo secara meyakinkan menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai fundamental yang cukup kuat untuk melakukan transformasi di berbagai sektor. Sejumlah agenda, mulai dari pertumbuhan ekonomi, investasi, reformasi kelembagaan, penataan BUMN, swasembada, hilirisasi hingga efisiensi pemerintahan dan penguatan pengawasan, disebut berada dalam satu arah kebijakan strategis.

Idrus berpandangan, seluruh transformasi tersebut memiliki satu tujuan utama, yakni meningkatkan kesejahteraan rakyat. Karena itu, pemerintah dinilai terus mendorong kegiatan ekonomi produktif, memperkuat kemandirian, serta meningkatkan daya saing nasional agar sasaran tersebut dapat tercapai.

Salah satu kebijakan yang disorot, kata Idrus, program swasembada solar melalui penerapan mandatori B50. Kebijakan tersebut menggunakan bahan bakar dengan campuran 50 persen biodiesel berbasis kelapa sawit dan dinilai menjadi langkah penting dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar.

"Hal ini bukan sekadar tentang swasembada BBM, melainkan wujud nyata swasembada yang berbasis pada potensi sumber daya dalam negeri," ucapnya.

Idrus menekankan, Indonesia mempunyai sumber daya kelapa sawit yang melimpah. Terlebih, selama ini kebutuhan energi diesel masih sangat berkaitan dengan penggunaan minyak bumi dan produk impor.

Melalui implementasi B50, lanjutnya, sebagian kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan bahan baku dari dalam negeri sekaligus mengubah kekayaan alam menjadi salah satu fondasi kedaulatan energi nasional.

Ia menilai kebijakan tersebut juga memiliki dampak ekonomi yang lebih luas. Ketika ketergantungan terhadap impor berkurang, devisa yang sebelumnya digunakan untuk membeli produk dari luar negeri dapat dipertahankan dan berputar di dalam perekonomian nasional.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore