Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Juli 2026 | 06.03 WIB

Indonesia Perkuat Dominasi Nikel Global, Pasokan ke Smelter Jadi Kunci

ILUSTRASI - Produksi nikel tambang Indonesia pada 2025 mencapai 2,6 juta ton dari total produksi dunia sebesar 3,9 juta ton. (NICL) - Image

ILUSTRASI - Produksi nikel tambang Indonesia pada 2025 mencapai 2,6 juta ton dari total produksi dunia sebesar 3,9 juta ton. (NICL)

JawaPos.com – Indonesia masih menjadi penopang utama pasar nikel global. Memasuki 2026, posisinya sebagai produsen nikel terbesar di dunia semakin kokoh setelah menyumbang sekitar dua pertiga dari total produksi nikel global.

Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), produksi nikel tambang Indonesia pada 2025 mencapai 2,6 juta ton dari total produksi dunia sebesar 3,9 juta ton. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai mata rantai paling strategis dalam pasokan mineral dunia.

Besarnya produksi nasional membuat tanggung jawab pelaku usaha di sektor pertambangan juga semakin besar. Selain menjaga volume produksi, perusahaan dituntut memastikan seluruh rantai operasional berjalan optimal, mulai dari pengelolaan tambang, pengangkutan material, pasokan ke smelter, pengawasan kualitas, hingga penerapan standar keselamatan kerja.

"Dominasi produksi nikel tidak cukup dibaca dari angka tambang. Nilainya baru terasa jika pasokan ke smelter stabil, material terkirim tepat waktu, dan operasi hulu berjalan dengan standar teknis yang jelas," ujar Komisaris PT Andalan Artha Primanusa, Ivan Victor Salim.

USGS juga mencatat produksi nikel Indonesia meningkat sekitar 13 persen sepanjang 2025 seiring beroperasinya sejumlah tambang baru. Pertumbuhan tersebut menunjukkan industri nikel nasional tidak hanya ditopang oleh besarnya cadangan mineral, tetapi juga meningkatnya aktivitas operasional di lapangan.

Seiring meningkatnya skala produksi, kebutuhan terhadap jasa pertambangan pun semakin kompleks. Aktivitas mulai dari pembukaan lahan tambang, pengupasan tanah penutup (overburden), pengangkutan bijih nikel (ore), pengelolaan stockpile, perawatan jalan tambang, hingga pengaturan alur material menuju fasilitas pengolahan menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran rantai pasok.

Kelancaran operasional di sektor hulu menjadi faktor krusial karena gangguan sekecil apa pun dapat memengaruhi ritme produksi di smelter. Stabilitas pasokan pun menjadi salah satu kunci untuk menjaga keberlangsungan industri pengolahan nikel.

Di sisi lain, pelaku usaha juga terus mencermati perkembangan harga nikel sebagai dasar penyusunan strategi bisnis. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 179.K/MB.01/MEM.B/2026, Harga Mineral Acuan (HMA) nikel periode pertama Mei 2026 ditetapkan sebesar US$17.802,14 per dmt. Angka tersebut menjadi acuan penting bagi industri dalam membaca arah pasar sekaligus menyusun rencana produksi.

Editor: Hendra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore