
Mantan Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero), Hanung Budya Yuktyanta, dihadirkan sebagai saksi dalam sidang banding Kerry Adrianto di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Kamis (7/5). (Muhamad Ridwan/JawaPos.com).
JawaPos.com – Beneficial owner PT Orbit Terminal Merak (OTM), Kerry Adrianto Riza, merasa diperlakukan tidak adil dalam proses sidang banding kasus dugaan korupsi tata kelola minyak dan produk turunan kilang. Pernyataan tersebut disampaikan melalui surat dari Rutan Salemba yang dibacakan kuasa hukumnya, Patra M Zen, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (12/5).
Dalam surat itu, Kerry menyebut mantan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Alfian Nasution, serta mantan Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero), Hanung Budya Yuktyanta, telah menegaskan bahwa tidak ada campur tangan dari Mohamad Riza Chalid maupun Irawan Prakoso dalam proses penyewaan terminal BBM milik OTM oleh Pertamina.
Penegasan tersebut disampaikan Hanung dan Alfian saat memberikan keterangan dalam sidang banding di Pengadilan Tinggi Jakarta, pada Kamis (7/5).
"Menjawab pertanyaan tersebut, Saudara Hanung dan Saudara Alfian dengan sangat rinci, jelas, dan panjang lebar menyatakan di hadapan Majelis Hakim bahwa sebenarnya tidak ada paksaan sedikit pun dari Mohamad Riza Chalid, Irawan Prakoso, maupun dari saya," kata Kerry Riza dalam suratnya.
Kerry menjelaskan, berdasarkan keterangan kedua mantan pejabat Pertamina itu, keputusan penyewaan terminal BBM OTM dilakukan secara independen di internal Pertamina sesuai prosedur bisnis yang berlaku. Karena itu, ia menilai konstruksi hukum dalam perkara tersebut seharusnya gugur.
"Karena hal itu berarti tidak ada kerugian negara yang timbul dari penyewaan Terminal OTM tersebut. Namun di tengah proses ini, saya justru merasakan adanya ketidakadilan yang nyata," ujarnya.
Kerry juga menyoroti keputusan Majelis Hakim yang batal menghadirkan Irawan Prakoso dalam sidang banding kedua pada 7 Mei 2026. Menurutnya, sebagai terdakwa ia memiliki hak untuk menghadirkan saksi yang meringankan sesuai Pasal 290 KUHAP. Apalagi, Majelis Hakim sebelumnya telah menyetujui pemanggilan Irawan sebagai saksi kunci pada sidang banding pertama yang berlangsung 30 April 2026.
"Sejak sidang pertama, saya sudah mengajukan nama Irawan Prakoso sebagai saksi kunci dan pada saat itu Majelis Hakim pun sudah menyetujui untuk menghadirkan beliau. Namun kejanggalan mulai terjadi pada sidang kedua saat pemeriksaan saksi, di mana ternyata nama beliau tidak keluar di dalam penetapan pengadilan," bebernya.
Ia menambahkan, Majelis Hakim sempat kembali menyetujui kehadiran Irawan dalam sidang lanjutan. Namun, pada akhir persidangan pekan lalu, permintaan tersebut ditolak dengan alasan Irawan tidak tercantum dalam berkas perkara karena sebelumnya tidak pernah diperiksa dalam kasus tersebut.
"Hal ini menyisakan tanda tanya besar di hati saya. Mengapa Majelis Hakim harus merasa keberatan untuk menghadirkan beliau, padahal saudara Irawan Prakoso ini memiliki keterangan yang sangat penting dalam perkara saya," beber Kerry.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
