
Ketua Mahkamah Konstitusi Suhartoyo (tengah) bersama Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi lainnya memimpin jalannya sidang. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1980 tentang Hak Keuangan/Administratif Pimpinan dan Anggota Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara serta Bekas Pimpinan dan Anggota Lembaga Negara. Putusan perkara Nomor 191/PUU-XXIII/2025 dibacakan dalam Sidang Pengucapan Putusan yang digelar pada Senin (16/3).
"Mengabulkan permohonan para pemohon untuk sebagian," kata Ketua MK Suhartoyo membacakan amar putusan di Gedung MK, Jakarta.
Permohonan tersebut diajukan oleh Ahmad Sadzali (Pemohon I), Anang Zubaidy (Pemohon II), Muhammad Farhan Kamase (Pemohon III), Alvin Daun (Pemohon IV), Zidan Patra Yudistira (Pemohon V), Rayhan Madani (Pemohon VI), dan Muhammad Fajar Rizki (Pemohon VII).
Dalam pertimbangan hukum yang dibacakan Wakil Ketua MK Saldi Isra, Mahkamah menilai bahwa sebagian ketentuan dalam UU 12/1980 telah kehilangan relevansi.
Saldi menjelaskan, UU tersebut mengatur gaji pokok, tunjangan, serta pensiun bagi pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang bukan berasal dari pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ketentuan itu pada awalnya ditujukan bagi pimpinan MPR yang berasal dari unsur Utusan Daerah dan Utusan Golongan.
Namun, setelah perubahan konstitusi, komposisi anggota MPR mengalami perubahan mendasar. Seluruh anggota MPR kini berasal dari anggota DPR dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang dipilih melalui pemilihan umum.
Dengan tidak adanya lagi unsur Utusan Daerah dan Utusan Golongan dalam keanggotaan MPR, maka secara logis tidak lagi terdapat pimpinan MPR yang berasal dari kedua unsur tersebut. Karena itu, pengaturan mengenai hak keuangan atau administratif dalam Pasal 2 ayat (2) dan Pasal 12 ayat (2) UU 12/1980 dinilai tidak lagi relevan untuk dipertahankan.
Mahkamah juga menyoroti ketentuan Pasal 4 ayat (1) UU 12/1980 yang menyatakan bahwa anggota MPR yang bukan anggota DPR diberikan uang kehormatan setiap bulan. Ketentuan ini harus dinilai dalam kerangka konstitusi hasil perubahan.
Dalam Pasal 2 ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 disebutkan bahwa MPR terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui pemilihan umum. Artinya, tidak lagi terdapat anggota MPR yang bukan berasal dari kedua lembaga tersebut.
Dengan demikian, norma Pasal 4 ayat (1) UU 12/1980 dinilai telah kehilangan sandaran konstitusionalnya. Ketentuan tersebut hanya relevan pada masa sebelum perubahan konstitusi, ketika MPR masih terdiri atas anggota DPR ditambah utusan daerah dan golongan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022