
Pakar Sosiologi Universitas Airlangga, Prof Bagong Suyanto menyoroti usulan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi soal KB Vasektomi jadi syarat bansos. (Dokumentasi Humas Unair).
JawaPos.com-Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Prof. Bagong Suyanto menyoroti peristiwa tragis yang menimpa seorang bocah berusia 10 tahun berinisial YBR asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Bocah yang masih duduk di kelas IV SD diduga bunuh diri di kebun milik neneknya. Bagi Prof. Bagong, tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm bahwa kesehatan mental anak sering terabaikan.
Pasca insiden ini, pemerintah diharapkan dapat membentuk sistem dukungan berbasis komunitas dengan melibatkan lembaga sosial lokal untuk memberi pendampingan psikologis dan emosional bagi anak-anak di daerah.
"Lembaga sosial lokal harus lebih terlibat dalam memberikan perhatian terhadap kesehatan mental anak, terutama yang berada di daerah terpencil dengan keterbatasan akses layanan pendidikan," ujar Bagong, Senin (9/2).
"Sebab, anak-anak yang tinggal di daerah terpencil seringkali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan," lanjutnya.
Di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), akses layanan psikologis yang terbatas membuat anak-anak rentan merasa terisolasi. Mereka juga minim mendapat dukungan saat menghadapi tekanan maupun persoalan hidup.
"Ini menjadi catatan penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Kesehatan mental anak harus menjadi prioritas, melalui apa? Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan masyarakat sekitar," beber Prof. Bagong.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair menilai tekanan kemiskinan juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan mental anak, sehingga mereka rentan merasa cemas, stress, hingga putus asa.
Dalam kasus ini, korban yakni YBR, 10 tahun, dikenal sebagai anak yang pendiam dan penurut. YBR juga anak bungsu dari lima bersaudara yang tinggal bersama neneknya sejak usia 1 tahun 7 bulan.
Ia bersama nenek tinggal di sebuah pondok bambu berukuran sekitar 2x3 meter di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada. YBR tinggal terpisah dengan ibu kandungnya. Sementara sang ayah merantau ke Kalimantan.
"Kondisi ekonomi yang sulit menyebabkan stres dan kecemasan pada anak-anak, ini berimbas pada kesejahteraan mental mereka. Ketika orang tua sulit memenuhi kebutuhan dasar, anak merasakan dampaknya," ucap Bagong.
Belakangan, masyarakat digegerkan dengan kisah seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR, 10 tahun, yang nekat menghabisi nyawanya sendiri dengan cara gantung diri di sebuah pohon cengkeh, Kamis (29/1) pukul 11.00 WITA.
Peristiwa pilu yang terjadi di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur bermula dari permintaan sederhana yang tak mampu dipenuhi.
Sehari sebelum kejadian, YBR sempat meminta ibunya untuk dibelikan buku tulis dan pensil. Namun karena keterbatasan ekonomi, sang ibu dengan berat hati tak dapat mengabulkan permintaan anaknya.
Sang ibu, MGT, 47, mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, YBR menginap di rumahnya pada malam hari. Pagi harinya sekitar pukul 06.00 WITA, YBR diantar menggunakan ojek menuju rumah neneknya.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
