ILUSTRASI: Makanan sehat rendah kalori yang cocok untuk diet. (Freepik)
Meski hasil SSGI 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen atau setara dengan 4.482.340 balita yang menurun 1,7 persen dibandingkan tahun 2023, masih banyak PR yang harus dikerjakan.
Kemenkes telah menargetkan penurunan stunting pada 2025 menjadi 18,8 persen yang membutuhkan upaya lebih keras dan kolaborasi lebih erat, terutama di enam provinsi dengan jumlah balita stunting terbesar, yaitu Jawa Barat (638.000 balita), Jawa Tengah (485.893 balita), Jawa Timur (430.780 balita), Sumatera Utara (316.456 balita), Nusa Tenggara Timur (214.143 balita), dan Banten (209.600 balita).
Tak hanya itu, dalam SSGI 2024 juga menunjukkan bahwa wilayah Indonesia timur memiliki prevalensi tertinggi untuk gabungan stunting, gizi kurang, dan berat badan kurang.
Sementara Indonesia bagian tengah hingga timur terlihat banyak wilayah dengan prevalensi tinggi sejak usia anak 12 bulan ke atas. Kondisi ini menandakan bahwa intervensi pemenuhan gizi tidak cukup hanya dilakukan saat kehamilan, tetapi harus berlanjut setelah anak lahir.
Beberapa faktor yang tercatat dalam data SSGI dan menjadi perhatian Kementerian Kesehatan antara lain cakupan pemeriksaan kehamilan, pemberian tablet tambah darah, pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, imunisasi, serta prevalensi diare.
Cara Memenuhi Gizi Seimbang di Rumah
Seiring masih tingginya masalah gizi, pendekatan lama '4 Sehat 5 Sempurna' dinilai sudah tidak lagi relevan. Dokter Spesialis Konsultasi Gizi Klinik, dr. Jovita Amelia, MSc, Sp.GK, menjelaskan bahwa saat ini masyarakat dianjurkan menerapkan konsep gizi seimbang sesuai pedoman piring sehat.
“Gizi seimbang sesuai piring sehat, di mana 1/4 karbohidrat kompleks, 1/2 sayur dan buah, 1/4 protein. Untuk anak komposisinya sama seperti dewasa, disesuaikan saja dengan jumlah kebutuhan kalorinya,” jelas dr. Jovita saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (23/1).
Ia menjelaskan, konsep 4 Sehat 5 Sempurna menekankan makanan pokok, lauk, sayur, dan buah, dengan susu sebagai penyempurna. Namun dalam pedoman gizi seimbang, susu tidak lagi diposisikan sebagai penyempurna, melainkan asupannya dibatasi sesuai kebutuhan.
Selain komposisi makanan, dr. Jovita menekankan pentingnya variasi dan pola hidup sehat. Sayur dan buah dianjurkan beraneka warna untuk memastikan kecukupan vitamin dan mineral.
Adapun enggunaan minyak sehat perlu dibatasi, asupan cairan harus cukup, dan aktivitas fisik tetap dilakukan secara rutin.
Tantangan Edukasi Gizi
Di akhir, dr. Jovita menyoroti masalah umum dalam pemenuhan gizi di Indonesia yang masih kerap ditemui. Menurutnya, salah satu tantangan utama adalah kurangnya informasi gizi yang benar di masyarakat.
“Mungkin karena kurangnya informasi gizi yang benar. Justru yang banyak beredar itu informasi-informasi gizi dari orang-orang yang tidak memiliki kompetensi di bidangnya,” ujarnya.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
