Area terdampak banjir di Kecamatan Batang Toru dan Muara Batang Toru. (dok. PTAR)
JawaPos.com - Beragam pendapat yang menyatakan bahwa bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera disebabkan oleh kondisi ekologis. Siklon tropis luar biasa yang membawa hujan ekstrem dalam waktu singkat dianggap sebagai pemicu saja.
Namun, pakar ilmu tanah dari IPB University Basuki Sumawinata menyatakan, banjir besar yang melanda sejumlah wilayah Sumatera tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan keberadaan kebun kelapa sawit. Menurut dia, banjir tersebut merupakan dampak dari siklon tropis luar biasa yang membawa hujan ekstrem dalam waktu singkat.
Basuki menjelaskan, curah hujan (CH) selama kejadian siklon mencapai 400 mm dalam 1–3 hari. Merupakan jumlah yang jauh melampaui rata-rata bulanan. “Curah hujan sebulan biasanya 150–200 mm. Ketika 400 mm turun hanya dalam beberapa hari, tanah tidak mungkin mampu meresapkan air, sehingga terjadi aliran permukaan yang massif,” kata Basuki kepada wartawan pada Senin (8/12).
Menurut hasil pemantauan satelit, awan hujan akibat siklon tersebut memiliki cakupan 200–300 km, meliputi pegunungan, perbukitan, hingga dataran rendah. "Jadi bisa dibayangkan areal yang begitu luas menyangkut gunung dan perbukitan, air permukaannya mengalir dan berkumpul di pelembahan tentu akan menyebabkan aliran yang deras dan menyebabkan banjir dan longsor. Banjir menjadi semakin parah ketika mendekati daerah yang relatif datar terutama semakin dekat ke pantai," jelasnya.
Dia memberikan gambaran bahwa 400 mm hujan setara 4.000 m³ air per hektare. “Dengan cakupan dari Aceh sampai Sumatera Barat, banjir pasti terjadi. Tidak ada sistem lahan yang mampu menangani volume sebesar itu,” tegasnya.
Meskipun infiltrasi hutan lebih baik daripada kebun sawit, tetapi tidak ada sistem lahan yang bisa menahan 400 mm hujan per hari. “Pada hutan primer pun akan terjadi run off besar ketika hujan ekstrem turun di lereng yang lebih curam. Bahkan erosi dan longsor lebih mungkin terjadi di hutan alami yang berada di topografi curam,” ujarnya.
Masyarakat Indonesia belum familier dengan fenomena siklon tropis, karena kejadian serupa jarang terjadi di wilayah Indonesia, terutama di lintang kurang dari 5 derajat.
“Negara seperti Jepang, Taiwan, dan Vietnam Utara sudah terbiasa menghadapi taifun sehingga sistem mitigasinya matang. Untuk Indonesia, ini kejadian luar biasa. Jadi untuk menghindari dampak siklon tropis adalah tidak ada lain adalah prediksi, peramalan dan mengungsi,” jelasnya.
Baca Juga: Putri Zulkifli Hasan Salurkan Bantuan Rp 5 Miliar untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatera
Menyoal sawit menjadi pemicu banjir maupun longsor, Basuki menegaskan menilai kebun sawit tidak dibangun di lereng curam. Lereng yang digunakan hanya sampai sekitar 15–20 persen. Di atas itu, sawit memang bisa tumbuh, tetapi tidak ekonomis untuk dikelola. Oleh karena itu, tidak logis mengaitkan sawit dengan longsor di daerah lereng. Selain itu, praktik budi daya sawit modern banyak dipantau melalui berbagai sistem sertifikasi untuk menjaga kepatuhan terhadap standar lingkungan.
Selain itu, berdasarkan data historis, perkebunan sawit modern umumnya tumbuh di eks kebun karet rakyat, belukar, atau wilayah bekas Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Bukan dibuka dari hutan primer.
Menurut dia, sejumlah stigma yang sering diarahkan kepada sawit umumnya tidak berlandas pada data ilmiah. “Mulai dari sawit boros air, sawit penyebab banjir, dan lain-lain. Banyak sekali mispersepsi,” ujar Basuki. Dari sisi lingkungan, sawit tetap memiliki fungsi ekologis lebih baik dibanding tanah terbuka atau belukar. Dengan laju fotosintesis tinggi, sawit berpotensi menjadi carbon sink yang efektif. “Penyerapan karbon kebun sawit jauh lebih tinggi dibanding hutan primer,” katanya.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
