
Warga antre beli bbm. (Diskominfotik Kabupaten Aceh Tengah)
JawaPos.com – Masyarakat Aceh Tengah dilaporkan melakukan pembelian panik atau panic buying BBM hingga stok habis total. Kondisi ini membuat penanganan korban banjir bandang dan longsor semakin lumpuh, terutama karena energi menjadi faktor vital bagi evakuasi, komunikasi, hingga layanan kesehatan.
Hal itu menyusul Surat Pernyataan ketidakmampuan Bupati Aceh Tengah dalam menangani darurat bencana hidrometeorologi di lokasi tersebut.
Aksi panic buying terjadi sejak Minggu (30/11) ketika informasi darurat bencana meluas dan akses Aceh Tengah masih terputus dari luar daerah. Antrean kendaraan mengular hingga tiga kilometer di sejumlah SPBU, sementara masyarakat berebut membeli sisa BBM karena khawatir pasokan benar-benar terhenti.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Aceh Tengah, Jauhari, menyebut bahwa aksi pembelian panik ini membuat energi kritis kini masuk tahap kosong total.
“Stok BBM untuk genset evakuasi korban dan operasional RSUD Datu Beru sudah habis total,” ujarnya, dikutip JawaPos.com dari laman resmi Kabupaten Aceh Tengah, Senin (1/12).
Menurut Jauhari, kekosongan BBM ini memicu efek berantai yang mengancam keselamatan warga. Unit lapangan yang mengandalkan generator listrik di desa-desa terisolir tak lagi bisa beroperasi, memperlambat pencarian korban, dan pendistribusian bantuan.
RSUD Datu Beru yang menangani pasien luka, ibu hamil, hingga warga dari lokasi bencana berada dalam kondisi paling rentan. Tanpa pasokan BBM, layanan medis kritis terancam berhenti dalam hitungan jam.
Pemerintah Kabupaten mendesak bantuan BBM dikirim lewat jalur udara karena darat masih lumpuh total. Status darurat energi dan pangan kini menjadi prioritas utama pemerintah daerah untuk mencegah krisis kemanusiaan meluas.
Pernyataan Ketidakmampuan Bupati Aceh Tengah
Sebelumnya, beredar resmi Surat Pernyataan Ketidakmampuan Upaya Penanganan Darurat Bencana dengan nomor 360/565/BPBD/2025 yang ditandatangani Bupati Aceh Tengah Haili Yoga pada 27 November 2025.
Dalam surat itu dijelaskan bahwa bencana hidrometeorologi berupa banjir luapan, banjir bandang, dan tanah longsor telah menelan 15 korban jiwa dan menyebabkan 3.123 KK mengungsi, dengan angka yang terus bertambah.
Melihat skala bencana yang kian membesar, pemerintah kabupaten menyatakan tidak mampu lagi menangani darurat bencana secara mandiri.
Sementara data terbaru yang disampaikan Bupati Haili Yoga pada Minggu (30/11) menunjukkan kondisi yang jauh lebih berat: 54.199 jiwa mengungsi, 21 meninggal dunia, dan 24 orang masih hilang. Sebanyak 14 kecamatan terputus aksesnya, dan 779 rumah mengalami rusak berat.
Meski distribusi bantuan udara sudah mulai masuk, jumlahnya masih sangat kurang. Minimnya BBM, kerusakan 59 ruas jalan, serta terbatasnya layanan kesehatan membuat situasi di Aceh Tengah berada pada titik darurat.
“Kami mohon dukungan dari seluruh pihak. Kami yakin, dengan kerja sama, Aceh Tengah akan segera pulih,” ujar Bupati Haili Yoga.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Misi John Herdman Demi Semifinal!
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Kejagung Periksa Febrie Adriansyah: Kenakan Rompi Pink dan Tangan Terborgol
Presiden Persebaya Surabaya Angkat Bicara Usai Juara, Azrul Ananda: Menuju Bintang Melalui Kesulitan
Profil Kiper Persebaya Reza Arya Pratama, Tepis 2 Penalti Persib di Final Piala Presiden 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
