
Ketua Dewan Pembina Forkom Alawiyyin (Habaib) Indonesia R. Haidar Alwi. (Istimewa)
JawaPos.com - Meski sudah bergulir cukup lama, Presiden Prabowo Subianto belum juga mengumumkan susunan Komite Reformasi Kepolisian yang bakal menjadi tulang punggung reformasi Polri.
Menurut pengamat kepolisian Haidar Alwi, hal itu menunjukkan bahwa presiden memilih berhati-hati dan ingin memastikan reformasi kepolisian benar-benar mampu memperkuat Polri.
Pendiri Haidar Alwi Institute itu menyatakan bahwa Komite Reformasi Kepolisian sangat penting sebagai wadah independen untuk menelaah, menilai, dan merekomendasikan arah pembenahan institusi kepolisian.
Karena itu, bila susunan komite tersebut tidak kunjung diumumkan, bukan berarti Presiden Prabowo lamban. Justru hal itu adalah bentuk kecermatan dalam menimbang setiap langkah.
”Prabowo dikenal sangat perhitungan dalam setiap keputusan strategisnya, tampaknya sedang mengambil jarak untuk memastikan bahwa reformasi Polri benar-benar berangkat dari niat memperkuat institusi. Bukan dari tekanan yang membawa kepentingan terselubung,” ungkap dia dalam keterangan resmi pada Sabtu (18/10).
Menurut sosok yang juga Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB itu, sejarah menunjukkan bahwa reformasi yang dipaksakan tanpa kalkulasi politik matang kerap berubah menjadi instrumen kekuasaan baru.
Alih-alih menyelesaikan masalah, yang ada justru satu dominasi berubah menjadi dominasi lain yang juga berbahaya.
Haidar melihat, desakan untuk mempercepat reformasi Polri yang datang dari berbagai arah harus dipilah. Sebab, sebagian muncul membawa semangat moral, namun ada pula yang membawa agenda samar.
Dia menyebut, di antara suara yang nyaring, tidak sedikit tampak lebih ingin menjadikan Polri sebagai arena tawar-menawar politik, ketimbang membuat Polri menjadi institusi hukum yang profesional dan independen.
”Dalam konteks itulah, kehati-hatian Prabowo menjadi relevan. Dia tidak mengabaikan tuntutan publik, namun memastikan bahwa reformasi yang dijalankan tidak menjadi jebakan politik yang justru merusak stabilitas pemerintahan yang baru dibangun,” jelasnya.
Lebih lanjut, Haidar menyatakan bahwa kehati-hatian presiden menjadi sinyal bahwa Istana tidak ingin reformasi Polri berubah menjadi ajang ancaman politik.
Menurut dia, Prabowo saat ini masih perlu memastikan bahwa perubahan di tubuh institusi kepolisian dilakukan dengan kontrol yang kuat dari negara, bukan tekanan dari kelompok luar atau pihak lain.
"Reformasi, dalam pandangan strategisnya, bukan sekadar rekonstruksi kelembagaan, tetapi rekonstruksi kepercayaan antara negara, aparat, dan rakyat. Itu sebabnya, setiap langkahnya diukur, setiap keputusan ditimbang, dan setiap desakan diuji motifnya,” imbuhnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Prediksi Skor Arema FC vs Bhayangkara FC: Berpeluang Imbang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Isenmulang Kalteng vs Persebaya di Super League, Green Force Berpeluang Curi Tiga Poin
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Susunan Pemain Persik vs Madura United: Reina Siapkan Strategi Terbaik
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Suahasil Buka Suara soal Pembagian Tugas Tiga Wamenkeu, Ini Fokusnya!
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Emil Audero Incar Poin di Kandang
Adhyaksa FC Bekasi Vs PSGC Ciamis: Misi Bangkit Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022