Sejumlah mobil hangus pasca kerusuhan di Mako Brimob di Kwitang, Jakarta, Jumat (29/08/2025).
JawaPos.com - Demonstasi yang terjadi pada akhir Agustus lalu dan berujung pada kerusuhan yang memakan korban jiwa pada Kamis (28/8) menjadi tanda tanya publik. Kenapa demonstrasi itu sampai berujung dengan kerusuhan?
Demonstrasi yang berujung rusuh itu disinyalir akibat dari kenaikan gaji dan perilaku anggota DPR yang tidak simpatik dan arogan. Di samping itu kondisi ekonomi yang sulit. Hal itu terungkap dari hasil survei yang dilakukan oleh Median.
Peneliti Senior Median Rico Marbun mengatakan, hasil survei terbaru menunjukkan dua penyebab utama maraknya aksi demonstrasi di Indonesia, yakni kebijakan dan perilaku anggota DPR yang dianggap tidak simpatik serta kesulitan ekonomi yang dialami masyarakat.
Dari survei yang dilakukan Median, publik menilai kenaikan gaji dan tunjangan DPR menjadi faktor paling dominan (30,2%) di balik gelombang unjuk rasa. Selain itu, perilaku arogan DPR (9,8%); sikap tidak peduli pada rakyat (8,1%); serta kebijakan yang memberatkan ekonomi rakyat (6,8%) juga ikut memperkuat kemarahan publik.
Baca Juga: Ribuan Buruh Geruduk DPR, Said Iqbal Sampaikan 3 Tuntutan ke Pemerintah: Tak Perlu Libatkan TNI
Faktor kesulitan ekonomi (6,5%) dan kesenjangan ekonomi (4,2%) menambah persepsi bahwa elite politik semakin jauh dari realitas masyarakat.
"Temuan ini menegaskan bahwa demonstrasi yang merebak adalah akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap perilaku elit dan tekanan ekonomi yang semakin berat,” ujar Rico Marbun dalam konferensi pers yang dilakukan Median secara daring pada Senin (22/9).
Selain penyebab, kata Rico Marbun, survei Median juga menggali aspirasi atau tuntutan yang paling diingat publik dari aksi demonstrasi. Data menunjukkan bahwa isu-isu ekonomi dan akuntabilitas elite menjadi dominan.
Terdapat tiga tuntutan teratas yang paling banyak diingat publik. Antara lain, turunkan gaji dan tunjangan anggota DPR, sahkan UU perampasan aset, dan bubarkan DPR/hapus tunjangan anggota DPR.
Menurut Rico, ketiga isu ini secara kolektif mencakup hampir 70 persen dari aspirasi demonstrasi yang melekat di ingatan masyarakat. “Tiga pesan yang paling diingat publik adalah turunkan gaji anggota DPR, sahkan UU Perampasan Aset, dan bubarkan DPR,” tambahnya.
Adapun survei itu dilakukan pada 8–13 September 2025 dengan metode kuesioner berbasis Google Form yang disebarkan melalui media sosial META. Target responden adalah pengguna aktif berusia 17–60 tahun ke atas.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022