Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 Juli 2025 | 23.40 WIB

Kasus Perkosaan Massal jadi Perbincangan, Sejumlah Wartawan Senior Saksi Hidup Kerusuhan Mei 1998 Angkat Suara

Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, saat rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/7). - Image

Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, saat rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/7).

JawaPos.com - Penulisan ulang sejarah yang diagendakan Menteri Kebudayaan Fadli Zon menuai polemik di masyarakat. Khususnya terkait kasus pemerkosaan massal yang mewarnai kerusuhan berdarah 1998. Fadli secara pribadi masih mempertanyakan adanya kasus pemerkosaan massal. 

Di tengah polemik tersebut, sejumlah wartawan senior angkat suara. Mereka merupakan saksi sejarah. Karena saat terjadi kerusuhan Mei 1998, masih aktif melakukan peliputan di lapangan. Bahkan juga ada yang terlibat dalam proses pengungkapan fakta bersama tim khusus. 

Diantaranya wartawan senior yang menyampaikan pendapat soal kasus pemerkosaan massal etnis Tionghoa adalah Darmawan Sepriyossa. Dia merupakan wartawan senior yang tergabung dalam tim redaksi Majalah Tempo pasca-pembreidelan. 

Sepriyossa mengungkapkan pengalamannya selama tiga bulan menelusuri kasus itu pada 1998 silam. "Kami menggali, mewawancarai banyak sumber, bahkan memperpanjang waktu peliputan," terangnya pada Jumat (4/7).

Namun, tidak ada satu pun korban langsung atau bukti medis kuat terkait kasus pemerkosaan massal etnis Tionghoa yang berhasil ditemukan. Dia menegaskan, meski tidak menafikan adanya kekerasan dalam kerusuhan Mei 1998, klaim adanya perkosaan massal terorganisir memerlukan bukti luar biasa.

"Dalam jurnalisme, air mata bukan arsip. Empati tidak boleh mengalahkan verifikasi," tegasnya.

Sepriyossa lantas mengutip prinsip ilmiah Carl Sagan yang berbunyi Extraordinary claims require extraordinary evidence. Serta hadis Nabi Muhammad tentang bahaya menyebarkan kabar tanpa konfirmasi.

Polemik itu menyisakan pertanyaan apakah perkosaan massal Mei 1998 fakta sejarah atau ilusi yang dipolitisasi. Bagi korban yang mungkin tak terdokumentasi, luka itu nyata. Namun bagi dunia jurnalisme dan hukum, kebenaran harus berdasar bukti, bukan narasi yang rentan dimanipulasi. "Kita tak bisa membangun masa depan dengan pondasi dusta, sebaik apa pun niatnya," pungkas Sepriyossa. 

Hal senada disampaikan Wahyu Muryadi, mantan Redaktur Pelaksana Tempo. Melalui grup percakapan WhatsApp (WA) dia bercerita saat itu banyak informasi yang bersifat katanya. "Kami gagal mendapatkan testimoni sahih dari korban," ujarnya. 

Dalam kesempatan sebelumnya Ketua Tim Asistensi TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) Dr. Hermawan Sulistyo membongkar catatan lama investigasinya. Meski menggunakan pendekatan empatik, seperti melibatkan polwan dan protokol medis Denver, hanya satu kasus potensial yang ditemukan. Yakni seorang perempuan bernama samaran "Vivian" yang kabur ke Taiwan sebelum diverifikasi.

"Ada laporan tentang 150 pelaku memperkosa di toko berukuran 5x4 meter. Itu tidak masuk akal," tegas pria yang akrab disapa Kiki itu. Angka 52 korban dalam laporan resmi TGPF pun diakuinya sebagai kompromi politik. Bukan temuan empiris.

Seperti diketahu belakang muncul kontroversi dari pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Yaitu tentang tidak adanya bukti kuat terkait isu perkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa dalam kerusuhan Mei 1998.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore