
Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, saat rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/7).
JawaPos.com - Penulisan ulang sejarah yang diagendakan Menteri Kebudayaan Fadli Zon menuai polemik di masyarakat. Khususnya terkait kasus pemerkosaan massal yang mewarnai kerusuhan berdarah 1998. Fadli secara pribadi masih mempertanyakan adanya kasus pemerkosaan massal.
Di tengah polemik tersebut, sejumlah wartawan senior angkat suara. Mereka merupakan saksi sejarah. Karena saat terjadi kerusuhan Mei 1998, masih aktif melakukan peliputan di lapangan. Bahkan juga ada yang terlibat dalam proses pengungkapan fakta bersama tim khusus.
Diantaranya wartawan senior yang menyampaikan pendapat soal kasus pemerkosaan massal etnis Tionghoa adalah Darmawan Sepriyossa. Dia merupakan wartawan senior yang tergabung dalam tim redaksi Majalah Tempo pasca-pembreidelan.
Sepriyossa mengungkapkan pengalamannya selama tiga bulan menelusuri kasus itu pada 1998 silam. "Kami menggali, mewawancarai banyak sumber, bahkan memperpanjang waktu peliputan," terangnya pada Jumat (4/7).
Namun, tidak ada satu pun korban langsung atau bukti medis kuat terkait kasus pemerkosaan massal etnis Tionghoa yang berhasil ditemukan. Dia menegaskan, meski tidak menafikan adanya kekerasan dalam kerusuhan Mei 1998, klaim adanya perkosaan massal terorganisir memerlukan bukti luar biasa.
"Dalam jurnalisme, air mata bukan arsip. Empati tidak boleh mengalahkan verifikasi," tegasnya.
Sepriyossa lantas mengutip prinsip ilmiah Carl Sagan yang berbunyi Extraordinary claims require extraordinary evidence. Serta hadis Nabi Muhammad tentang bahaya menyebarkan kabar tanpa konfirmasi.
Polemik itu menyisakan pertanyaan apakah perkosaan massal Mei 1998 fakta sejarah atau ilusi yang dipolitisasi. Bagi korban yang mungkin tak terdokumentasi, luka itu nyata. Namun bagi dunia jurnalisme dan hukum, kebenaran harus berdasar bukti, bukan narasi yang rentan dimanipulasi. "Kita tak bisa membangun masa depan dengan pondasi dusta, sebaik apa pun niatnya," pungkas Sepriyossa.
Hal senada disampaikan Wahyu Muryadi, mantan Redaktur Pelaksana Tempo. Melalui grup percakapan WhatsApp (WA) dia bercerita saat itu banyak informasi yang bersifat katanya. "Kami gagal mendapatkan testimoni sahih dari korban," ujarnya.
Dalam kesempatan sebelumnya Ketua Tim Asistensi TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) Dr. Hermawan Sulistyo membongkar catatan lama investigasinya. Meski menggunakan pendekatan empatik, seperti melibatkan polwan dan protokol medis Denver, hanya satu kasus potensial yang ditemukan. Yakni seorang perempuan bernama samaran "Vivian" yang kabur ke Taiwan sebelum diverifikasi.
"Ada laporan tentang 150 pelaku memperkosa di toko berukuran 5x4 meter. Itu tidak masuk akal," tegas pria yang akrab disapa Kiki itu. Angka 52 korban dalam laporan resmi TGPF pun diakuinya sebagai kompromi politik. Bukan temuan empiris.
Seperti diketahu belakang muncul kontroversi dari pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Yaitu tentang tidak adanya bukti kuat terkait isu perkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa dalam kerusuhan Mei 1998.

Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Pembuktian Magis Christian Pulisic
Prediksi Skor Timnas Qatar vs Swiss di Piala Dunia 2026: The Maroons Terancam Gagal Start Sempurna
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Daftar Pemain Kanada dan Bosnia Herzegovina di Grup B Piala Dunia 2026
