Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Mei 2025 | 13.27 WIB

Mengenal Fenomena Kemarau Basah: Mulai dari Penyebab hingga Dampak bagi Kehidupan Masyarakat

Ilustrasi hujan. (Dewang Gupta/Unsplash) - Image

Ilustrasi hujan. (Dewang Gupta/Unsplash)

JawaPos.com - Belakangan ini, Indonesia mengalami perubahan cuaca yang tidak biasa. Perbedaan suhu yang meningkat di wilayah perairan menjadi salah satu penyebab munculnya kondisi cuaca yang menyimpang dari pola normal.

 Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional. Berdasarkan penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), anomali cuaca tersebut turut menyebabkan hujan masih terjadi di sejumlah daerah, meski kalender musim menunjukkan bahwa Indonesia sudah memasuki periode kemarau.

Beberapa wilayah di Tanah Air bahkan terpantau mengalami apa yang disebut sebagai "kemarau basah". Mengutip informasi dari laman distan.bulelengkab.go.id, istilah kemarau basah merujuk pada kondisi ketika curah hujan tetap tinggi di tengah musim kemarau.

Kejadian ini disebabkan oleh gangguan pada sistem atmosfer, yang membuat pembentukan awan hujan tetap berlangsung meskipun seharusnya memasuki masa kering. Akibatnya, hujan tetap turun dengan frekuensi yang cukup sering di berbagai wilayah.

Sementara itu, seperti dijelaskan dalam situs resmi dri.ipb.ac.id, perubahan pola musim ini berkaitan erat dengan pemanasan global. Pemanasan global terjadi akibat akumulasi emisi karbon dan berbagai gas rumah kaca di atmosfer, yang menyebabkan panas dari sinar inframerah terperangkap dan tidak terlepas ke luar angkasa.

Itulah sekilas gambaran tentang fenomena kemarau basah yang tengah terjadi. Untuk menambah wawasan, berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai kemarau basah yang menarik diketahui.

Kemarau Basah Bisa Terjadi

Kemarau basah merupakan fenomena cuaca yang ditandai dengan tingginya intensitas hujan meskipun musim kemarau sedang berlangsung. Kejadian ini biasanya berlangsung dalam kurun waktu cukup lama dan tidak bersifat sementara.

Salah satu faktor utama yang memicu terjadinya kemarau basah adalah fenomena alam yang dikenal sebagai La Nina. Gejala La Nina terjadi di wilayah Samudra Pasifik dan memiliki pengaruh besar terhadap pola cuaca global.

Dampaknya bisa dirasakan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, yang salah satunya mengalami curah hujan tinggi di saat seharusnya musim kemarau berlangsung.

 Dampak pada Sektor Kesehatan dan Penghidupan

Setelah musim hujan berakhir, masyarakat tetap perlu mewaspadai kemarau basah. Fenomena ini bisa membawa sejumlah risiko, baik dari segi kesehatan maupun sumber penghasilan. Salah satu dampak yang paling nyata adalah hujan yang terus turun dan banjir yang terjadi secara berkepanjangan.

Secara umum, terdapat tiga faktor yang memicu terjadinya kemarau basah, yaitu kondisi geografis wilayah, perubahan iklim akibat keadaan alam, serta perilaku manusia yang turut memperburuk perubahan cuaca.

Kombinasi dari ketiga faktor tersebut berperan besar dalam menciptakan ketidakteraturan pola musim. Dari segi kesehatan, kemarau basah dapat memunculkan penyakit yang biasanya banyak terjadi saat musim hujan.

Misalnya, diare yang disebabkan oleh air tercemar, leptospirosis yang ditularkan melalui tikus, serta demam berdarah dengue (DBD) akibat pertumbuhan jentik nyamuk yang lebih cepat karena lingkungan lembab. Anak-anak dan orang lanjut usia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap ancaman ini.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore