
Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melabaikan tangan saat sertijab di Balaikota Jakarta, Kamis (20/02/2025). (Hanung Hambara/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menegaskan bahwa melarang kecerdasan buatan (AI) di dunia pendidikan bukanlah solusi yang tepat.
Menurutnya, AI adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari, tetapi harus diatur dengan bijak agar tidak menghilangkan esensi pendidikan itu sendiri.
"Zaman terus melaju. Gelombang teknologi tak bisa dibendung. AI bukan sekadar datang mengetuk pintu ruang kelas, tapi sudah mulai melangkah masuk. Kita tidak bisa berpaling. Kita pun tak boleh tertinggal. Dunia bergerak cepat, dan sekolah tak boleh berjalan lambat," ujar Anies melalui akun X, dikutip Sabtu (29/3).
Anies menekankan bahwa anak-anak Indonesia berhak mendapatkan literasi digital dan kecakapan teknologi terbaru. Namun, di saat yang sama, mereka juga harus tetap berkembang sebagai manusia seutuhnya—berpikir kritis, memiliki empati, dan berkarakter kuat.
Ia menolak pandangan bahwa sekolah hanya menjadi pabrik jawaban tanpa membangun daya pikir dan kreativitas siswa.
"Sekolah bukan pabrik jawaban. Ia adalah taman akal dan budi. Di sanalah anak-anak belajar mengenal tanya, bukan hanya menjawab; belajar mendengar, bukan hanya bicara; belajar berpikir mendalam, bukan sekadar mengulang fakta," lanjutnya.
Dalam pandangannya, AI bisa membantu siswa dalam berbagai aspek, seperti menulis esai, menjawab soal, atau merangkum buku. Namun, ada risiko besar jika AI digunakan tanpa kendali yang jelas.
Jadi, Anies mengingatkan bahwa penggunaan AI yang tidak bijak dapat membuat siswa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kemandirian dalam mengambil keputusan.
"Albert Einstein pernah mengingatkan: 'The human spirit must prevail over technology.' Pesan ini sederhana tapi dalam. Jangan sampai teknologi yang kita bangun justru menghapus sisi kemanusiaan yang menjadi inti dari pendidikan itu sendiri," paparnya.
Untuk itu, Anies menegaskan pentingnya adanya regulasi dan diskusi bersama dalam mengatur penggunaan AI di dunia pendidikan. Larangan total bukanlah jalan keluar, tetapi kebebasan tanpa batas juga bukan jawaban yang tepat.
"Karena itu, kita butuh aturan dan panduan. Bukan untuk membatasi zaman, tapi untuk menjaga arah. Perlu diskusi jujur: sejauh mana AI boleh hadir di kelas? Apa batas wajar penggunaannya? Dan apa yang justru harus dijaga tetap dilakukan manusia?" ucapnya.
Menurutnya, keseimbangan adalah kunci dalam menghadapi perubahan zaman ini. Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan alat yang menggantikan peran manusia dalam pendidikan.
Oleh karena itu, diperlukan ruang dialog antara guru, orang tua, murid, pakar, dan pemerintah agar AI dapat dimanfaatkan dengan cara yang tepat.
"Masa depan harus kita sambut dengan optimisme. Tapi jangan lepas kendali. Pendidikan harus tetap berpijak pada manusia, bukan mesin. Sebab teknologi hanya hebat, jika ia tetap tahu tempat," tutupnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
