
KELAS TERENDAM: Para murid kelas II SDN Muktiharjo Lor, Kota Semarang, mengumpulkan jawaban seusai penilaian akhir semester, Selasa (28/11).
JawaPos.com – Hampir seluruh wilayah di Indonesia telah memasuki musim hujan periode 2023–2024. Sebanyak 69 zona musim diprakirakan mengalami hujan di atas normal.
Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto menjelaskan bahwa awal musim hujan di Indonesia memang tidak terjadi secara bersamaan. Hingga akhir Agustus 2023, beberapa zona musim (ZOM) sudah memasuki musim hujan.
Sementara, pada awal Desember, wilayah Jawa Timur bagian utara, sebagian besar NTB, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Sulawesi Tenggara, dan Maluku akan mengikuti wilayah-wilayah lainnya. ”Awal musim hujan 2023–2024 umumnya pada Oktober–Desember 2023 di 477 ZOM,” ujarnya di Jakarta kemarin (28/11).
Pada musim hujan tahun ini, fenomena EI Nino diprediksi berlangsung hingga Februari 2024. Namun, sifatnya moderat. Karena itu, sifat hujan pada periode musim hujan 2023–2024 diprakirakan normal di sebagian besar wilayah. Diprakirakan, ada 566 ZOM (80,97 persen) yang hujannya bersifat normal. Kemudian, 69 ZOM (9,9 persen) di atas normal dan 64 ZOM (9,16 persen) di bawah normal.
Wilayah yang mengalami hujan di atas normal ini meliputi Aceh bagian selatan, Sumatera Utara bagian utara, Riau bagian utara, Sumatera Barat bagian selatan, Jambi bagian utara, Bengkulu bagian utara, Sumatera Selatan bagian barat, Banten bagian selatan, Sulawesi Tengah bagian selatan, dan Sulawesi Tenggara bagian selatan.
Sementara, wilayah yang mengalami hujan di bawah normal adalah sebagian kecil Sumatera Utara, Lampung bagian selatan, sebagian kecil Banten, sebagian kecil Jawa Barat, Jawa Tengah bagian timur, Jawa Timur bagian selatan, sebagian Kalimantan Barat, sebagian NTT, Sulawesi Tengah bagian utara, Papua Barat bagian selatan, dan Papua bagian barat. ”Puncak musim hujan diprakirakan terjadi pada Januari–Februari 2024 di 385 ZOM,” ungkapnya.
Di Kota Semarang, hujan deras disertai angin kencang sejak Senin (27/11) malam hingga kemarin dini hari mengakibatkan daerah di sekitar Kaligawe Raya di sisi utara ibu kota Jawa Tengah itu terendam banjir. Berdasar pantauan Jawa Pos Radar Semarang kemarin pagi, di pertigaan antara Jalan Kaligawe Raya dan Jalan Muktiharjo Raya, puluhan sepeda motor mogok. Bahkan, satu bus bernopol H 7120 OA terhenti akibat tingginya genangan.
SDN Muktiharjo Lor di Kecamatan Genuk termasuk yang terdampak banjir. Tiga ruang kelas terendam. Padahal, di sekolah tersebut sedang berlangsung penilaian akhir semester (PAS).
Kepala SDN Muktiharjo Lor Ngatijan menjelaskan, ruang kelas terendam dengan ketinggian mencapai 15 sentimeter di sebelah selatan seperti kelas III-A, III-B, V-A, V-B, dan V-C. Sementara, masih satu deret, ruang UKS dan ruang administrasi tidak terendam. ”Airnya dari bawah malah naik,” katanya.
Terlihat, ratusan siswa sambil nangkring dan menyincing celana atau roknya tetap bersemangat mengerjakan PAS. Biasanya, ketika banjir terjadi, sekolah memberikan kelonggaran izin tidak masuk bagi siswa. Namun, saat PAS kali ini, pihak sekolah menganjurkan para siswanya tetap berangkat. ”Saat ini ada 85 persen dari 414 siswa yang berangkat,” ujarnya.
Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menilai, sejumlah jembatan dibangun terlalu rendah sehingga aliran air menuju Sungai Tenggang tidak lancar. Wali kota yang akrab disapa Mbak Ita itu meminta Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang membongkar jembatan yang terlalu rendah. Salah satunya adalah Jembatan Nogososro di daerah Tlogosari. ”DPU saya minta membongkar Jembatan Nogososro, bisa pakai anggaran BTT. Nanti bangunan yang di atas saluran bisa ditertibkan,” tegas Mbak Ita.
Dari Surabaya, BPBD Jawa Timur (Jatim) meminta masyarakat mewaspadai cuaca ekstrem. Ada 10 kawasan yang masuk kategori rawan banjir. Bahkan, potensinya tinggi.
Kawasan-kawasan itu adalah sebagian Surabaya; Sidoarjo (Tulangan, Tanggulangin, Porong, dan Prambon); Gresik (Cerme dan Benjeng); Lamongan (Sukodadi dan Karanggeneng); serta Bojonegoro (wilayah kota). Selain itu, sebagian Nganjuk, perbatasan Madiun–Ngawi, Ponorogo (wilayah kota), Tulungagung, serta Jombang (wilayah kota).
Di Kabupaten Lamongan, misalnya. Banjir di wilayah tersebut disebabkan meluapnya Sungai Bengawan Solo. ”Selain Bengawan Solo, Brantas juga dipantau. Sementara masih aman,” kata Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto kemarin. (mia/dee/fgr/mg20/mg21/den/ton/hen/c14/ttg)

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
