Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 9 September 2023 | 01.17 WIB

Program Membirukan Langit Jakarta Jadi Bentuk Tanggung Jawab Blue Bird, Tahun Depan Tambah 500 Armada EV

Sopir E-Bluebird Achmad Fathoni usai mengantarkan Jawa Pos dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta ke Graha Pena.


Dalam sehari, lalu-lalang taksi Bluebird di Jakarta sangat tinggi. Perusahaan taksi berlogo burung biru itu merasa ikut bertanggung jawab atas polusi udara. Lewat program Birukan Langit Jakarta, Blue Bird akan mereduksi 2 ribu ton emisi karbon per tahun.

Agas Putra Hartanto, Jakarta

Belakangan ini DKI Jakarta sangat dikhawatirkan dengan polusi udara. Mobilitas masyarakat dengan kendaraan bermotor menjadi salah satu penyebab polutan. Penggunaan transportasi umum berbasis listrik bisa menjadi pilihan dalam menjalankan aktivitas.

Melansir data dari situs IQAir pada Rabu (6/9) hingga pukul 11.00 WIB, skor indeks kualitas udara kota metropolitan berada di 161. Menduduki peringkat ke empat sebagai kota terburuk kualitas udaranya di dunia. Angka tersebut mengindikasikan udara yang tak sehat. Tidak hanya untuk kelompok yang sensitif. Tapi juga untuk orang secara umum.

Polusi yang menyelimuti Jakarta sangat jelas terlihat saat Jawa Pos mendarat di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta usai melakukan liputan di Banyuwangi, 11 Agustus lalu. Langit ibu kota berwarna abu-abu. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Lingkungan (KLHK) menunjukkan, bahwa sektor transportasi menyumbang 44 persen pencemaran udara di Indonesia. Lalu disusul sektor industri 31 persen.

Setibanya di lobi kedatangan bandara, Jawa Pos berinisiatif menggunakan taksi listrik. Saya bertemu dengan Achmad Fathoni, sopir E-Bluebird. Beliau ramah dan murah senyum. Yang menyenangkan, dia juga doyan bercerita.

Hal itu membuat perjalanan Jawa Pos menuju Graha Pena di Kebayoran Lama terasa tidak membosankan. Apalagi, saat Fathoni menjelaskan tentang armada BYD E6 yang dikendarainya. Mobil listrik tersebut memiliki konfigurasi 7-seaters captain seat. Sehingga terkesan lebih lega dan memiliki daya tampung lebih besar.

Dia mengatakan, armada BYD E6 memiliki transmisi otomatis. Secara akselerasi, tarikannya terasa lebih halus dan responsif dibandingkan armada berbahan bakar minyak (BBM). Saat di dalam, kabin mampu mereduksi suara dari luar dengan baik. Sehingga lebih kedap.

Fathoni dipercaya mengendarai armada listrik sejak 2019. Sejumlah seleksi pun telah dilalui. Salah satunya berdasarkan peringkat kinerja. “Ada kriterianya membawa mobil listrik. Seperti ranking driver, belum pernah laka (kecelakaan), belum ada komplain,” ungkapnya.

Di Jakarta, lanjut dia, armada E-Bluebird hanya beroperasi di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Rata-rata lebih sering melayani penumpang dari luar negeri. Terutama penumpang keluarga dengan bawaan barang yang banyak.

“Tapi kalau (penumpang domestik) yang sudah tahu (taksi) listrik, mesti pada nyamperin,” imbuhnya.

Beroperasi melalui bandara juga dinilai lebih efisien secara waktu dan baterai. Sebab, permintaan penumpang terhadap taksi listrik lebih besar ketimbang harus stand by di mall atau keliling di dalam kota. Di sisi lain, perbedaan setoran per hari yang lebih besar ketimbang armada taksi BBM tentu menjadi pertimbangan sopir.

“Alhamdulillah sehari rata-rata bisa 7 trip. Tergantung jarak juga. Dari sisi tarif, tidak jauh beda dengan taksi biasa. Termasuk laris,” ucap Fathoni.

Menurut dia, BYD E6 memiliki ketahanan baterai yang mumpuni melahap jalanan Jakarta. Pria asal Bekasi itu hanya perlu melakukan sekali pengisian baterai di pool kantor pusat Blue Bird Mampang. Perkiraannya, kondisi baterai 100 persen mampu menempuh jarak 300 kilometer.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore