Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Agustus 2023 | 03.41 WIB

Jeritan Hati Rahman, Anak PMI yang Ibunya Mati Sakit Ginjal dan Disiksa Agensi di Arab Saudi

Ilustrasi pemberangkatan Pekerja Migran Indonesia (PMI)

JawaPos.com – Rahman,19, anak dari almarhumah Arwati, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Dusun Lebak Gaga, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Wangi, Kota Serang, Provinsi Banten masih berharap jenazah ibunya dipulangkan ke tanah air. Namun, jika tak bisa dipulangkan, Rahman meminta agar ibunya dimakamkan dengan baik di Riyadh Arab Saudi. Sebab sudah sekitar sebulan, ibunya meninggal dunia sejak delapan bulan berangkat menjadi PMI.

“Seadainya bisa dipulangkan (jenazah ibu-Red), kami minta dipulangkan. Namun kalau nggak bisa, dikubur di sana nggak papa. Yang penting ada kejelasan,” tutur Rahman, saat berbincang dengan JawaPos.com, Rabu (2/8) petang.

Terkait permintaan kepulangan jenazah ibunya, menurut Rahman, pihak keluarga sudah berupaya meminta dipulangkan sejak sebulan lalu. Namun, hingga saat ini, pihak keluarga belum mendapatkan kabar apapun tentang kejelasan pemulangan jenazah yang meninggal karena dikabarkan sakit ginjal dan disiksa ini.

“Sampai sekarang belum ada kabar apapun dari KBRI Arab Saudi,” imbuh Rahman.

Terpisah, ketika dikonfirmasi perihal kasus yang mendera mendiang Arwati, Duta Besar (Dubes) Indonesia di Riyadh Kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz Ahmad, berjanji akan mencari tahu informasi tentang kasus kematian Arwani.

“Harus saya cek dulu. Saya mau take off. Mungkin dua tiga jam lagi baru bisa cari infonya, karena yang meninggal, yang kami urus  cukup banyak,” kata Abdul Aziz Ahmad kepada JawaPos.com.

Sebelumnya diberitakan, nasib nahas kembali dialami Pekerja Migran Indonesia (PMI). Arwati Bin Harun, seorang PMI asal Dusun Lebak Gaga, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Wangi, Kota Serang , Provinsi Banten, dikabarkan meninggal mengenaskan di kontrakan temannya, akibat sakit ginjal dan disiksa agensi yang menaunginya di Riyadh, Arab Saudi.

Ihwal adanya kejadian ini, menurut Ketua BUMINU Banten Nafiz Salim, awalnya Arwati pernah bekerja di Dubai selama 4 bulan dan mengalami sakit ginjal. Karena sakit, almarhumah pun pulang ke Indonesia untuk melakukan operasi ginjal.

“Setelah selesai operasi selang beberapa bulan almarhumah nekat ingin bekerja ke luar negeri (Riyadh) dengan alasan PMI bekerja ke luar negeri, untuk biaya anaknya karena keluarga almarhumah orang tidak mampu,” jelas Nafiz Salim dalam pesan tertulis yang diterima JawaPos.com, Rabu (2/8).

Atas keinginannya itu, akhirnya pihak agensi atas nama Sopian, memberangkatkan Arwati melalui Bandara Soekarno-Hatta.

Selanjutnya, setelah sampai wilayah Riyadh, Arwati ditampung oleh Sarikah/Agensi Alexi – Riyadh, dan selang beberapa hari Arwati mendapatkan majikan dan bekerja selama 1 bulan.

Sayangnya, tak lama berselang, Arwati kembali mengalami sakit pada ginjalnya, sehingga majikannya mengantarkan Arwati ke Syarikah atauAgensi Alexi-Riyadh yang menaunginya.

Namun menurut Rahman, 19, anak kandung Arwati, bukanya dikembalikan ke tanah air, sang ibu justru di siksa, diinjak dan di siram air oleh Sarikah/Agensi Alexi - Riyadh, karena melihat kondisi Almarhumah Arwati sakit.

“Itu ibu saya sendiri yang cerita saat saya berkomunikasi sebelum dia meninggal,” tutur Rahman, saat berbincang dengan JawaPos.com.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore