
Rais Aam PBNU sekaligus Pembina Yayasan Ihya Turots Nusantara KH Miftachul Akhyar dalam penandatanganan kerja sama ulama Indonesia-Malaysia. PBNU
JawaPos.com–Kolaborasi Indonesia dan Malaysia semakin berkembang. Di bidang pendidikan, tidak hanya di sektor pendidikan umum tapi juga merambah pendidikan keagamaan melalui kerja sama ulama kedua negara.
Beberapa waktu lalu ulama dari Indonesia bersama ulama dari Malaysia, menandatangani kerja sama pembangunan pesantren literasi agama. Khususnya di bidang keahlian penulisan Alquran dan turots atau manuskrip para ulama di kawasan Nusantara.
Kerja sama itu digagas Yayasan Ihya Turots Nusantara dari Indonesia. Kemudian melibatkan Yayasan Restu dari Malaysia. Penandatanganan kerja sama itu dipusatkan di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Gresik, Jawa Timur.
Wakil Ketua Yayasan Ihya Turots Muhammad Najib A.R. mengatakan, nanti pondok pesantren khusus literasi agama itu bernama Nasyrut Turots di Pasuruan, Jawa Timur. Pondok pesantren itu nanti menjalankan studi selevel sarjana (S1). Jurusan yang dibuka adalah teknik penulisan kitab (ta'lif), teknik kurasi (tahqiq), dan kaligrafi (khat).
”Tujuan dari nota kesepakatan ini adalah untuk meningkatkan mutu perjuangan agama, terutama di bidang penguatan para muallif, muhaqqiq, dan khatat,” ujar Muhammad Najib, Sabtu (17/12).
Pertimbangannya, lanjut dia, karena meyakini ketiga bidang itu memiliki pengaruh signifikan dalam pengembangan literasi di kalangan dunia Islam. Najib menjelaskan upaya mencetak para muallif perlu dilakukan kembali untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas literasi di bidang agama.
Hal itu juga sejalan dengan semangat Nahdlatul Ulama (NU) yang tengah memasuki abad keduanya. Dia menambahkan, sebenarnya, ulama Nusantara khususnya Indonesia sejak abad ke-13 telah menjadi bagian penting dari poros pemikiran Islam dunia.
”Sebab ulama kita sejak zaman dulu sudah memenuhi atrium peradaban Islam dunia,” terang Muhammad Najib.
Mulai dari Syeikh Khatib Sambas, Syeikh Nawawi Al-Bantani, dan Syekh Yasin Alfadani. Kemudian juga para masyayikh Palembang, seperti Muhammad Aqib Alfalimbani yang telah memainkan peran besar dalam kancah pemikiran dunia Islam.
Sementara itu CEO Yayasan Restu Dato Mohd Asyaharim bin Abdul Latiff mengaku sangat bersemangat dan antusias membangun pesantren Nasyrut Turats itu. ”Tidak lain agar kita semua mendapatkan pandangan cinta dan senyum bahagia dari Rasulullah Muhammad SAW,” jelas Dato Mohd Asyaharim.
Penandatanganan kesepakatan dilakukan perwakilan Yayasan Ihya Turots Muhammad Najib A.R. dan CEO Yayasan Restu Malaysia Dato Abdul Latiff Mirasa. Penandatanganan itu juga disaksikan Rais Aam PBNU sekaligus Pembina Yayasan Ihya Turots Nusantara KH Miftachul Akhyar.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
