
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat
JawaPos.com - Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat mengatakan, kondisi ketidakpastian yang dihadapi di masa wabah COVID-19 harus direspon dengan tata kelola pemerintahan yang baik. Karena menurutnya, tidak ada satu pun model penanganan pandemi virus Korona yang bisa persis diaplikasikan di setiap daerah.
"Karena itu saya sepakat bila setiap daerah diberi kewenangan untuk menentukan strategi penanganan sesuai karakteristik tantangannya masing-masing," kata Rerie sapaan akrab Lestari dalam diskusi online bertema Tata Kelola Penanganan COVID-19 di Indonesia, Kamis (28/5).
Politikus Nasdem itu juga mengatakan, pemerintah daerah harus didukung pemerintah pusat. Sebab, tata kelola yang komprehensif, lanjutnya, membutuhkan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah.
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, sebagai narasumber dalam diskusi itu pun berbagi pengalaman dalam menangani wabah COVID-19 di wilayahnya. Menurut Kang Emil, sapaan akrabnya, dengan jumlah penduduk Jawa Barat 50 juta orang, setara dengan jumlah penduduk Korea Selatan dan besaran anggaran hanya 1 persen dari Korea Selatan, membutuhkan kesabaran dan kreativitas dalam pengendalian COVID-19 di wilayahnya.
Sejauh ini, imbuhnya, pihaknya melakukan lima nilai kepemimpinan yang dilakukannya di Jawa Barat dalam melakukan pengendalian COVID-19.
"Pertama kita harus proaktif. Sebelum pemerintah pusat melakukan test COVID-19, kami sudah melakukannya," ujar dia.
Nilai berikutnya adalah transparan dalam menyajikan data, dasar pengambilan keputusan harus secara ilmiah, inovatif untuk memenuhi kelengkapan peralatan dan kolaboratif atau bekerja sama dengan banyak pihak untuk merealisasikan sejumlah langkah pengendalian COVID-19.
Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI Bidang Penyerapan Aspirasi Masyarakat dan Daerah Luthfi Mutty, sebagai salah satu narasumber dalam diskusi itu berpendapat, wabah COVID-19 dalam perspektif pemerintahan menyadarkan bahwa ada masalah dalam hubungan pemerintah pusat dan daerah.
Menurutnya, masalah tersebut karena pemerintah belum mampu menjalankan sejumlah fungsi manajemen antara lain fungsi koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan simplifikasi dengan baik. Akibatnya, tambahnya, produk kebijakan yang dihasilkan baik pemerintah pusat dan sejumlah pemerintah daerah malah menimbulkan ketidakpastian di tengah masyarakat dalam menghadapi wabah COVID-19.
Menanggapi hal itu, Tenaga Ahli Menteri Kesehatan Bidang Ekonomi Kesehatan, Mohammad Subuh, mengungkapkan dalam pengendalian COVID-19 di tanah air upaya yang dilakukan pemerintah sudah berdasarkan pertimbangan ilmiah dan sesuai standar Badan Kesehatan Dunia (WHO).
"Distrust yang terjadi di tengah masyarakat dalam penanganan COVID-19 saat ini, harus dijawab dengan langkah dan tindakan yang jelas," tandasnya.
Diskusi yang digagas Forum Diskusi Denpasar 12 bersama Dewan Pimpinan Pusat Partai NasDem Bidang Kebijakan Publik ini dimoderatori Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Luthfy Asyyaukanie.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
